Character

KarakterPertama

Kembali keangkuhanku tertunduk mengalah seakan memberi hormat dan tunduk kepada keajaiban yang baru aku sadari akhir-akhir ini. kemarin aku melihat dia, memperhatikannya dengan seksama, langkahnya tegap, jelana jeansnya berat, menambah kokoh tapaknya melangkahkan kaki. Seakan aku baru mengenalnya, setelah tujuh tahun lalu kami bermain bersama, mencuri mangga bersama, berenang bersama, mandi di Danau Toba bersama.

Ya, Danau Toba, danau nan indah, seindah keagungan penciptanya. Di sana dia tumbuh menjadi lelaki yang kuat, menjalani hidupnya kini tanpa seorang ayah yang telah pergi terlebih dahulu. Hari-harinya banyak dia ceritakan di hamparan air itu, berenang seharian, mengikuti kapal-kapal pedagang dari seberang danau. Begitu dekatnya dia dengan danau itu, bagaikan mentari tak akan terbenam sebelum danau itu membersihkan tubuhnya.

Tubuhnya kumal, setelah seharian di ladang gersang bersama kerbau-kerbau gembalaannya. Tak butuh banyak alasan buatnya untuk menggembalakan kerbau-kerbau itu. Demi sanghae (baca: satu paha) dari setiap kerbau itu, itulah jatah bagi mereka yang bersedia menggembalakan kerbau milik orang lain. Jika dia tidak sedang menggembalakan kerbau-kerbau itu, ditemaninya ibu, dan abangnya yang paling sulung, hendak membantu panen padi mereka yang sudah menguning.

Di sinilah keberuntungannya dia temukan, tepanya berkat dicurahkan atasnya. Burung-burung memakan bulir-bulir padi itu, kemudian pergi terbang bebas ke langit, ke alam yang tiada batas. Ingin rasanya dia merasakan hal yang sama, berkelana hingga ke seberang danau, menguji nasib dan mulai bercita-cita. Tak ingin rasanya dia melewatkan malam itu tanpa membaca buku usang milik kakak sulungnya yang 10 tahun lebih tua dari dia. Membaca di bawah lampu petromax yang remang-remang malam nanti.

Alam telah memberinya inspirasi, memberinya kesempatan untuk bermimpi, bercita-cita dan untuk itulah dia ada di sini sekarang. Demi menggapai pesan yang dititipkan kepadanya melalui burung-burung, burung yang terbang bebas tanpa keluh kesah karena burung itu yakin dia akan selalu dipeluhara oleh penciptanya.

Dialah karakter pertama yang akan aku ceritakan dalam kisah para orang-orang yang telah beruntung diberikan kesempatan untuk bercita-cita. Kulit hitamnya adalah buah dari aktivitas kesehariannya yang selalu berenang di Danau Toba semasa kanak-kanaknya, meskipun sinar matahari membakar kulitnya, dia tidak akan ragu untuk menikmati alam. Rambutnya hitam, lurus dan dipotong pendek mirip bintara polisi. Matanya sipit hampir haya terlihat segaris, berbeda dengan kebanyakan orang satu sukunya di tepi Danau Toba itu. Tapi pandangannya tajam. Suara lantang keluar dari tubuh yang tegap itu, kira-kira 165 cm tingginya, tak jauh beda dengnan tinggi badanku. Badanya tidak besar, tapi otot keras membungkus tulangnya. cukup ideal untuk lelaki yang berbobot kira-kira 60 kg itu.

Tingkahnyanya yang kocak, luwes, ramah, dan sangat senang membuat lelucon-lelucon yang garing. Sungguh karakter yang tidak tercermin dari wajah yang sangar itu. Hideung kupanggil dia

KarakterKedua

Kualihkan pandanganku dari lelaki hitam itu. Terlintas di benakku kisah seorang teman yang dilahirkan di sebuah pulau yang fenomenal di Indonesia. Pulau itu berada di berada di atas terluas itu, Samosir namanya. Cukup luas untuk ukuran pulau di atas pulau. Tak cukup 2 jam perjalanan menggunakan mobil untuk mengitari jalur ringroad yang dibuat menyisir sekeliling pantai Samosir. Mungkin sekitar 4-5 jam perjalanan, atau bahkan seharian karena jalan tersebut sebenarnya masih sangat darurat untuk dilalui mobil. Perjalanan yang akan sangat melelahkan, tapi tidak akan pernah membosankan. Pasir putih di pantai, hamparan air, sawah yang menguning dengan serentak, hijau pantai dengan pohon kelapanya, situs-situs budaya, perkampungan tradisional, selih berganti menemani sepanjang jalan ringroute itu.

Di pantai sebelah barat, terdapat perkampungan yang masih lengang, tak terlihat ramai penduduk. Di sanalah dia dilahirkan. Ayahnya seorang guru menjadi selalu menginspirasi dan menumbuhkan semangatnya untuk belajar. Namun tak semudah itu, sudah menjadi kebiasaan dan tradisi di daerahnya seorang anak yang beranjak remaja akan menjadi seorang penggembala kerbau. Itulah aktivitas kesehariannya.

Tak ada istilah ‘tidur siang’ yang sangat dibenci anak-anak sekarang, tak ada kamus belajar tambahan alias kursus di sore hari, baginya setiap waktu adalah pelajaran, belajar dari alam. Belajar bertahan hidup ketika seorang gembala cilik diterpa hujan di tengah ladang luas. Belajar memilih tumbuhan dan serangga apa yang bisa dimakan untuk sekedar mengisi perut yang lapar selama menggembalakan kerbau-kerbau kesayangannya. Saat itu dia tidak mengenal uang saku apalagi istilah jajanan, sebab semuanya sudah tersedia di alam selama dia mau berusaha.

Kadang dia mengambil buah dari kebun milik orang lain saat lapar atau bahkan saat dia tergiur melihat buah nenas yang sebenarnya belum matang itu. Tapi yang paling sering adalah umbi ketela pohon yang selalu tersedia sepanjang tahun. Tak akan ada masalah yang terjadi meskipun pemilik kebun itu sadar ada orang yang telah mencuri hasil kebunnya, mungkin sudah tradisi dan maklum (baaca: pengertian) akan tindak tanduk dan kondisi para gembala selagi hasil curiannya benar-benar untuk dikonsumsi saat menggembala dan tidak untuk dijual kembali.

Diambilnya ketela pohon itu, lalu dibakarnya dibakar. Asapnya yang mengepul menghindarkannya dari sengatan nyamuk dan serangga. Butuh keahlian khusus untuk menyalakan api dan memilih ranting-ranting yang akan dibakar. Tak semudah yang terlintas di pandangan kita. Semua keahlian ini dipelajarinya dairi alam. Seruling bambunya menemaninya menunggu umbi-umbian itu matang. Dilantunkannya sebuah musik yang sedikit lambat, tiupannya bervibrasi, seakan bibirnya bergetar menghayati lagu yang meratapi nasibnya.

Itulah saat-saat yang tepat untuk merefleksikan dirinya dan merenungi nasibnya yang dengan seragam putih dan celana pendek merah menggembalakan sekawanan ternak yang bau dan dekil itu. Berharap akan sebuah perubahan, ditiupnya seruling bambu itu, nada-nada merdu, atau lebih tepat disebut menyedihkan, menemani hatinya yang masih merindukan sebuah perubahan untuk kampung halamannya. Harapan yang sederhana dari seorang bocah yang sekarang sudah menjadi seorang sarjana teknik lulusan perguruan tinggi terbaik di Bandung, mungkin terbaik di Indonesia. Impian itu masih terpatri di hatinya, cita-cita yang sulit dimengerti oleh sarjana-sarjana lulusan sabuga * saat ini. Harapan yang berkonotasi bodoh bagi sarjana yang berani menyebut dirinya sebagai penerus bangsa meskipun yang ada di pikirannya adalah bekerja bagi perusahaan luar negeri dengan gaji ‘dollar’ setinggi-tingginya. Huh… tetapi teman aku yang satu ini terpanggil untuk membangun daerah.

Dialah karakter kedua, wajahnya yang ta bisa menipu kalau dia adalah keturunan suku yang sangat bangga akan marganya dari daerah Samosir, tak sehitam Hideung, tapi kerut di antara hidung pipi dan bibirnya semakin lama semakin hitam. Suaranya yang melengking menjadi khas dalam setiap lagu yang dilantunkannya. Dengan nada yang naik satu oktaf dia sangat senang menyanyikan lagu berbahasa Batak. kemampuan bahasnya sangat tinggi dan hebat tapi khusus untuk bahasa Batak, tidak demikian dengan bahasa indonesia yang hingga SMA hanya digunakannya ketika menjawab ulangan di sekolah. Apalagi bahasa Inggris, mungkin hanya dipergunakan sewaktu pelajaran bahasa Inggris saja dan tentunya saat test TOEFL.

Nyaris tak ada kekonyolan dalam dirinya, tapi wajah dan logatnya cukup untuk membuat orang lain tak mampu menahan tawa melihat setiap aksinya. Tubuhnya tinggi, pinggang yang ramping, bahu yang bidang menambah tegap postur tubuhnya. Dari wajahnya tercermin kepolosan, lugu, tapi tak dungu. Otaknya yang brilian dan segudang pengalamannya menajdikannya seorang yang cepat menangkap dan mempelajari setiap hal yang baru dalam hidupnya. Tak jarang aku memanggil Yos.

KarakterKetiga

Cukup sudah cerita tentang sarjana teknik dari Samosir itu. Masih ada satu lagi sarjana teknik yang dengan perjuangan dan kerja keras mendapatkan gelarnya dari sebuah institut di Bandung. Kemarin aku masuk ke dalam kamarnya yang sangat sederhana, dinding kamarnya hanya disekat dengan tripleks. kamar kostnya yang tak terlalu luas sebenarnya lebih tepat dikatakan studio kerja baginya. tak lebih dari 2,2m x 3m luas kamar itu. Catnya putih tapi kurang rapih, katanya tak cukup dana untuk membeli mengecat kamar kontrakan itu.

Begitu sederhananya kamar itu, begitu pula kreativtasnya menciptakan kamar yang terlihat artistik itu. tempelan-tempelan poster yang entah dari mana dia dapatkan menghiasi kamar kecil itu. Di sudut kamar diletakknya biola yang dia beli dengan tabungannya sendiri selama mahasiswa. Di sudut lain tumpukan buku yang tersusun rapih menghiasi kamar itu. Dari sebuah komitmen untuk terus belajar dan belajar, dia juga dengan susah payah bekerja sampingan untuk uang saku dan membeli buku-buku tersebut. Mungkin baginya buku adalah sumber ilmu yang sangat sayang kalau dilewatkan begitu saja.

Di atas meja kerjanya terletak sebuah buku yang terbuka. Kalau melihat bukaan halaman buku tersebut, mungkin 2/3 dari buku itu sudah selesai dia baca, tapi sebenarnya ini kali kedua dia membaca buku itu, berharap dapat memahaminya lebih mendalam. Buku itu bukan teks book perkuliahan, tapi buku yang berisi tentang Pendidikan di Indonesia. Memang dia adalah sosok yang sangat bermimpi akan sebuah pendidikan yang baik di Indonesia. sewaktu dia masih mahasiswa, dia telah menggerakkan teman-teman sebayanya termasuk aku untuk melakukan sebuah gerakan kepedulian pendidkan untuk kampung halamannya. Tak cukup dengan menggerakkannya, tak tanggung-tanggung dia juga memberikan dengan sukacita uang sakunya demi kesuksesan acara tersebut. Sampai sekarang dia adalah sosok yang tak pernah bosan untuk diajak berdiskusi tentang pendidikan.

Sejenak aku berpikir dan tak habis pikir, bagaimana bisa dia mendapatkan semangat dan impian sehebat itu? Masa kecilnya cukup menyenangkan, mungkin kesehariannya lebih banyak dihabiskan di lapangan luas di dekat sekolahnya. di bawah sinar matahari yang begitu teriknya membakar kulitnya yang kini terlihat relatif gelap dari orang-orang sepermainannya. Di lapangan itu juga dia berlari dari ujung lapangan ke ujung lapangan lainnya, tenaganya terkuras untuk mengejar si kulit bundar. Sepulang sekolah, itulah kegiatan rutinya.

Sebenarnya ada alasan bagi dia untuk melakukan kegiatan rutin yang menghabiskan tenaganya tersebut. Jarak antara rumah dan sekolah yang cukup jauh pasti akan menyita waktunya. Setiap pagi dia harus berjalan selama 30 menit ke sekolahnya. Sementara sore hari, sekolah sederhana itu memberikan kesempatan bagi siswanya untuk mendapatkan jam pelajaran tambahan. Jadi baginya sangat tidak efisien untuk pulang ke rumah siang hari sehabis jam pelajaran sekolah, dan kembali ke sekolah lagi sore harinya. Alhasil dia harus menunggu di sekolah dan bola yang sudah usang itulah yang selalu setia menemaninya agar tidak bosan menunggu.

Sekolah itu jauh dari Samosir, daerah dataran tinggi itu terkenal sangat sejuk, mungkin lebih tepat dikatakan sangat dingin. Namun semua itu tak membekukan semangatnya untuk berkarnya. Di sinilah perusahaan tambang yang meresahkan segelintir masyarakat Indonesia sekitar Danau Toba akan didirikan. Tak heran, daerah inilah yang memberikan kontribusi terbesar dalam menyumpang limpahan air jernih di Danau Toba yang akhir-akhir ini mulai surut.

Dia adalah lelaki bungsu yang tak terkesan manja seperti kisah klasik dan generalisasi orang kebanyakan. Setelah lulus SMP, dia harus berpisah dari orang tuanya karena dia sekolah di sebuah sekolah yang jauh dari dataran tinggi yang dingin itu. Mungkin hanya 3 atau 4 kali dia pulang ke rumah orang tuanya dala setahun. itupun karena dia membutuhkan uang untuk biaya hidupnya didaerah rantau. Berbeda jauh dengan calon sarjana yang di kampusnya, kebanyakan calon sarjana itu berasal dari ibukota yang seenaknya saja pulang ke rumah orang tuanya setiap minggu tanpa keperluan yang tak jelas. Pemborosan yang sangat tak berarti, begitu dalam benakku.

Tapi itulah perjuangan si bungsu ini, Dengan sikapnya yang kalem, pendiam, dan tidak banyak omong ini, ternyata dia menyimpan segudang impian, pemikiran, ide, dan cita-cita yang dasyat terhadap pendidikan. Kreativitasnya selalu mewarnai hari-harinya, nilai dan cita rasa seninya sama hebatnya dengan otak briliannya. gesekan biolanya sangat merdu untuk seorang yang baru memegang biola untuk pertama kalinya tiga bulan yang lalu, petikan gitarnya selalu melantunkan melodi lagu-lagu yang berkelas. Sentuhan kakinya memberikan kegirangan tersendiri bagi si kulit bundar di lapangan sepak bola. tak cukup dengan itu, kemampuan visual dan grafisnya pun tak kalah hebatnya. kupanggil dia Kakang.

KarakterKeempat

Jauh dari Danau indah yang membuat orang-orang seperti aku bisa berbangga hati dan sedikit sombong, menikmati indahnya air tawar yang melimpah itu. Dia hidup di daerah yang ramai dan disibukkan dengan kehidupan urban yang sesak di antara gedung-gedung tinggi yang angkuh menancapkan pondasinya. Nyaris tak ada ketenangan, sepanjang hari, orang sibuk mulai dari halte bus, trotoar, hingga perkantoran dan pusat perbelanjaan. Sepanjang malam, suara bising metro mini menemani tidurnya. Ibukota nama tempat itu. Hampir setiap orang ingin mengadu nasib ke kota yang angkuh itu, tapi aku bukan salah satu diantaranya sebab Bandung adalah impianku dan aku telah menikmatinya.

Mendengar kisahnya, aku tersadar, tak semuanya merekan yang tinggal dan besar di ibukota itu adalah orang beruntung, sebab gedung tinggi itu seakan menyepak warganya sendiri ke bantaran kali yang setiap tahunnya harus merasakan banjir. Mungkin kondisi itulah yang memberikan semangat dan daya juang yang tinggi buat meraih impiannya. meskipun sedikit meragukan buat aku, akan sebesar apa impian anak yang dibesarkan di keluarga yang keras ini?

Tak sulit baginya untuk menerjemahkan sebuah lagu menjadi nada-nada solmisasi yang mengalir begitu saja dengan nada indah yang dia lantunkan. Mungkin jauh lebih mudah daripada dia harus meminum air segelas air putih. bakat seni mengalir dalam dirinya, namun dia tak seberuntung mereka yang mengaku dirinya adalah seniman setelah mengeluarkan satu lagu yang nada dan liriknya sama sekali tak sesuai dengan selera pendengaranku. Pernah dia mencoba peruntungan di bidang tarik suara, untuk pertama kalinya dia rekaman dan sekaligus terakhir dalam hidupnya. Mungkin dia tak seberuntung yang diharapkan, tak cukup dana untuk menopang promosi dan rekamannya dan menjadikannya sebuah album. Pupus juga harapannya menjadi seniman, namun tak demikian dengan harapan dan impiannya saat ini, yang semakin membara dan kerap menjadi motivasi baginya.

Sulit menggambarkan karakter yang satu ini, namun perjalanan dan pengalamannya akan bercerita dengan sendiri tentang siapa dirinya sebenarnya, Bran demikian panggilannya.

KarakterKelima

Akhirnya aku temukan juga karakter kelima yang cukup banyak memberikan inspirasi. Tak cukup banyak waktu buat aku dan dia untuk bertemu dan bertatap muka, tapi dia sering sekali menggetarkan dan membunyikan telepon gemgam milikku. Kemarin kami bercerita tentang banyak hal, tentang masa depan dan impian masing-masing. terucap janji dariku untuk membawanya berjalan-jalan, bertamasya ke kawasan wisata di Jawa Barat. Ya, ke Tanggkuban Perahu, setelah aku mendapatkan gelar sarjanaku dan punya penghasilan. Terlintas dibenakku, mimpiku akan segera terwujud.

Sulit aku prediksi akan seperti apa nantinya dia dan cita-citanya. Sejak beberapa jam yang lalu aku mendapatkan telepon dari dia yang terisak tangis ditinggal pergi ayahnya, untuk selamanya. Aku akan berdoa buat dia, Fanie demikian namanya aku panggil.

MenulisKembali

Kuterima sebuah pesan singkat dari seseorang, dini hari yang dingin dan aku masih memejamkan mataku, tubuhku yang ringkih terbungkus sel;imut tebal berwana cokelat, terlentang di atas kasur yang sudah tipis dan lebih mirip disebut bed cover. Pesan singkat itu menggenggu tidurku, kuraih ponsel itu dan berusaha menerjemahkan huruf demi huruf pada pesan singkat itu. Tapi aku tak kuasa. Tak jelas antara batas antara sadar dan tidak. Tiba-tiba aku sudah terbangun, cahaya mentari menyinari tempat tidurku, menembus celah kaca jendela bangunan yang angkuh dan megah itu. Ponsel itu masih erat di genggamanku. Kubaca ulang pesan singkat itu dan kubalas. Dan aku pun terinsinspirasi untuk menyelesaikan tulisan ini. Meski tak banyak orang yang mengerti, tapi setidaknya aku bisa menuliskan apa yang ada di otak ku ini.

KapalMotor

Hari ini akan menjadi hari yang menyenangkan buat dia, ya hari spesial buat Kakang, pikirku dalam benak. Enam tahun yang yang lalu untuk pertama kalinya dia menginjakkan kakinya di tanah Jawa, pulau yang diidam-idamakan semua orang Indonesia, maklumlah dan wajar kalau Jawa mennjadi daerah yang padat penduduknya, kesenjangan pembangunanlah alasan utamanya. Bersama seorang teman dia turun dari kapal motor yang maha besar itu. Mungkin itu kapal motor yang terbesar yang pernah dia lihat. Jauh lebih besar dari kapal murahan yang ada di Danau Toba, apalagi kapal nelayan yang tanpa motor yang sering dia amati di Danau Toba. Kakang pasti tidak akan lupa akan hari bersejarah dalam hidupnya ini.

Dengan segala sukacita dan kebanggaan, akhirnya dia terdaftar secara resmi di sebuha perguruan tinggi negeri yang favorit di negri ini. Yah… konon kabarnya hanya orang-orang yang cerdas dan briliant yang bisa mengecap pendidikan di institusi ini. Yup, dia lulus ujian negara untuk masuk ke Institut Teknologi Bandung, sekolah yang pernah mencetak orang nomor satu di negara ini, sekolah yang memberikan gelar Ir…. buat orang yang berjasa untuk kemerdekaan negara ini, sekolah yang membanggakan proklamator negara ini sebagai lulusannya beberapa puluh tahun yang lalu.

Tapi kebanggaan itu harus dibayar mahal dengan pengorbanan selama ini, mungkin bukan pengorbanan, tapi lebih tepat dikatan sebuah perjuangan. Perjuangan seorang pemuda dari sekolah yang tidak punya nama, dari sekolah yang berada di sebuah dususn kecil yang tak mungkin kita temukan dalam peta. perjalan naik kapal motor itu bukanlah hal yang mudah bagi semua orang, meskipun buat aku sendiri itu adalah hal yang menyenangkan. Selama tiga hari berada di kapal yang berada di tengah laut lepas, dengan fasilitas yang seadanya akan sangat melelahkan. Sementara mereka yang punya harta hanya menempuh jarak ini dalam hitungan 2 jam saja. Tapi itu akan menjadi masalah kecil yang tak perlu diperdebatkan bagi Kakang, bagi aku, dan bagi kebanyakan pemuda di kampung kami. Itu adalah hal yang lumrah, bahkan sebuah anugerah dan pencapaian yang sangat besar bagi seseorang bila telah mengambil keputusan untuk merantau, meskipun itu harus ditempuh dengan kapal motor yang sangat melelahkan.

Akan aku cerita bagaimana kejamnya kapal motor itu akan menyiksa badan selama 3 hari. Waktu yang cukup untuk membuat badan ini ringkih, hingga tulang-tulang terasa memar dan kepala terasa berat. Hal pertama yang akan terjadi adalah antrian panajang di Belawan, pelabuhan di Medan. Mulai dari sinilah penderitaan dimulai. Antrian itu tak begitu panjang, tapi jauh lebih lama dari apa yang kita bayangkan. Mungkin disinilah kesabaran kita diuji. Kesabaran untuk tetap tenang melihat orang-orang yang belum paham dengan budaya antri. Aku heran, padahal, sejak Indonesia merdeka hingga detik ini, rakyat kita masih mengantri sembako, tapi mengapa budaya mengantri itu tak kunjung mendarah daging dengan kita. Seprtinya aku harus membahas budaya antri ini secara khusus di bab selanjutnya.

Udara panas, kering, dan iklim khas pesisir akan menemani setiap langkah antrian ini. Dengan Jakarta, akan sangat merepotkan dengan bawaan yang tak sedikit. inilah perjuangan yang sesungguhnya selama antrian ini. Mempertahankan semua barang yang kita miliki. Coba bayangkan seorang yang akan merantau dalam waktu yang tak singkat, bukan sehari dua hari, bukan sebulan dua bulan, tapi bertahun-tahun, bahkan mungkin saja ini untuk selamanya akan menyandang predikat sebagai perantau di Tanah Jawa. Berapa banyak barang yang kita butuhkan? Sebanyak itulah yang harus kita pertahankan selama antrian itu.

Penderitaan belum usai. Kini Belawan akan tinggal diam saja, sebab giliran Kapal Motor itu yang akan menyiksa penumpangnya. Aku beberpa kali menempuh jarak Tj. Priok – Belawan, bersama teman-teman se kampung ku pastinya. Aku tak tahu persis apa yang dirasakan oleh kakang ketika melintasi lautan Indonesia yang begitu kaya itu. Tapi aku hanya berusaha mencoba merasakan bagaimana kira-kira yang mereka rasakan, mungkin tak jauh beda dengan yang aku rasakan ketika di kapal motor itu.

Tak ada kata nyaman untuk tidur atas kasur yang baunya seperti di pasar tradisional dengan bau ikan asin yang menempel pekat di atas bantal dan kasur yang tak empuk itu. Ku putuskan untuk berjalan melihat kehidupan dn ramainya hiruk pikuk penumpang kapal motor itu, keramaian dan kegaduahan di tengah-tengah sunyinya ombak laut yang biru hingga batas mata memandang. berlagak ingin mengikuti jejak dan apa yang dirasakan Leonardo dalam kisah Titanic, aku naik ke dek paling atas. Kusaksikan di sana nyaris tak ada kemanusian, tapi aku salah satu di antara orang-orang itu. Tanpa teduh dan alas apa pun, seorang bayi terpaksa menahan jahatnya angin laut yang menerpa pipinya, di atas pangkuan seorang ibu tua. Tapi aku tetap tega melihatnya, namun aku sudah sudah tersadarkan, kasur busuk yang kudapatkan, jauh lebih baik dari pdaa sekedar kata syukur.

Kusadahi perjalanan ini, meskipun aku yakin masih banyak yang lebih memprihatinkan di dek bagian bawah. Saatya aku bersyukur dan tidak sekedar komentar dan memprotes kondisi ini. Meskipun sampai sekarang, aku tak tahu apa yang seharusnya aku perbuat bagi bayi malang yang kuat itu.

Kembali aku ke tempat tidurku, seraya menunggu jam makan malam, jadwal makan pertama yang akan aku lewatkan di atas kapal motor besar berukuran raksasa. Aku berkhayal, indahnya jika seandainya sebuah kapal pesiar milikku di danau Toba, makan mlam di atasnya pasti menyenangkan, di temani dengan rekan-rekan sekampungku makan, minum dan meghabiskan sebuklan penuh untuk mengelilingi Danau Toba dan singgah di tempat-tempat yang indah di danau Toba, di setiap pelosok yang penuh dengan keramah tamahan bangsa Batak.  Huh indahnya, mungkinkah aku mendapatkan khayalan seperti itu di atas kapal Motor ini?

EnamTahunBerkarya

Berjalan aku mengikuti gerak langkah yang mulai lunlai dengan tas hitam di genggamanku erat. Nafas mulai tak seirama dengan langkah, seakan keduanya saling berpacu, berlomba saling megejar satu sama lain dengan harapan menjadi pemenang. Namun aku semakin tak kuasa menahan desakan keringat yang selalu keluar dari pori-pori di heningku. Aku mulai bosan. Menantikan sebuah momen yang paling indah di kota yang aku idamkan, ya Paris van Java mereka menyebutnya. Di lorong jalan itu aku berusaha menebak kost-kosan yang sederhana yang menjadi tempatku nantinya berkarya.

Lorong itu semakin lama semakin gelap, pertanda aku sudah jauh meninggalkan jalan utama di kota itu. Semakin aku jauh, semakin sepi bising kendaraan iu terdengar di telingaku. Dan akhirnya kutemukan juga kost yang sangat sederhana. Tak jauh dari tempatku, teradapat sebuah kost yang sanga familiar bagi aku setelah sekarang. pertama kali ke sana, aku tak menyangka dari kamar kecil itu telah dilahirkan sarjana muda dengan segudang karyanya.

Enam tahun bukanlah waktu yang cepat untuk menyelesaikan program sarjana di sebuah Perguruan Tinggi ternama di negara ini, tapi bukan juga waktu yang singkat untuk menjadi seorang sarjana dengan kemampuan untuk melayani masyarakat dan ilmu yang seharusnya dimiliki seorang sarjana. Yang penting sekarang aku tersadarkan oleh dia yang aku panggil Kakang, waktu itu penting, bahkan teramat penting untuk disia-siakan. Tetapi lama waktu kita kuliah bukanlah patokan bagi apa yang telah kita dapatkan, bukan pula parameter akan tingkat intelegensi dan  kecerdasan kita, tapi yang lebih penting adalah baai mana kita mengisi waktu tersebut dengan karya dan pelayanan. Pelayanan dan karya apa yang telah ditorehkan oleh Kakang bukanlah rahasia, dengan impiannya semasa dia bermain bola adalah hal yang menjadi tanda tanya dan ironi yang sangat besar, Kakang mampu berpikir jauh ke depan, menembus segala ego dan mencapai batas empati akan kehidupan sosial dan perlunya sebuah karya demi pelayanan dan pengabdian. Bukan untuk aku tetapi untuk masyarakat, sebab itulah itulah pesan yang kembali dia dengunkan ketika dia mencapai gelar sarjana “…Kesarjanaan itu bukan milik kita, tetapi milik masyarakat…”

-underconstruction-

terimakasih

_
Terinspirasi dari mereka yang menemaniku menghabiskan hari-hariku selama ini,
terutama selama aku menjalankan perananku sebagai mahasiswa.
Kukutip banyak kata dari cerita dan candaan kita di kamar kostan, setiap malam sebelum tidur,
sewaktu kita chating dari lab masing-masing,
sewaktu kita makan roti di warung kopi di Ciumbuleuit,
saat kita bermain bulutangkis,
sewaktu kita ikut turnamen futsal,
kala kita diskusi tentang studi masing-masing,
atau saat kita naik kapal motor bersama pulang ke Sumatera,
hingga curhat tentang gadis impian kita masing-masing.
dan saat kamu semua meminjamkan aku uang kala aku tak punya uang,
atau bahkan waktu kita makan malam bersama tanpa lauk,
atau hanya sekedar berebut satu buah mangga yang dibeli dari pasar Gandok.
_
Didedikasikan bagi mereka yang kepada merekalah banyak orang mengantungkan harapannya
_
Memory Art by Watchson
_

One Response to “Character”  

  1. Lama sudah aku tak melanjutkan tulisasn ini,
    kadang malas, kadang lupa dan lebih sering tak punya inspirasi…

    tetapi aku, sekarang sedang dalam titik yang mentok dengan kebingunganku, sebab apa dan bagaimana skenario yang aku rencanakan harus dirubah,
    bukan karena ego, bukan karena cerita yang ingin aku tambahkan lebih menarik, tapi karena dia sahabat ku, aku ingin menuliskan tentang dia, dan mungkin akan lebih banyak tentang dia, yang menemani aku bersantai dengan gadis impiannya.

    Akan ada karakter baru ….

    Memory Art by Watchson


Leave a Reply