Story
melukiskandilema
Berjalan aku menyusuri kota kecil yang terlihat lengang itu. Hembusan angin seakan menyejukkan teriknya matahari siang tadi. Kulangkahkan tapakku, dengan tas hitam kecil di pinggangku aku berusaha memahami betapa indahnya sore itu. Aku tersadar, aku sedang berada di kota yang jauh lebih bersih dari kota tempat aku melanjutkan kuliahku di Bandung yang terkenal dengan kesejukkannya oleh orang-orang pemilik mobil mewah dari ibukota.
Kota kecil di Tapanuli, serasa sepi dan dingin menyandang kebanggaannya sebagai calon peraih Adipura. Nyaris tak ada kebisingan oleh kendaraan yang lalu lalang. Bahkan teriakan anak-anak bermain di atas lapangan rumput hijau itu mengingatkanku pada masa kecilku. Langit biru menyaksikan lapangan hijau itu berinteraksi dengan anak-anak yang sedang berebut bola kecil yang sudah usang. Di kejauhan, lompatan anak yang berkulit hitam itu semakin asik saja menghasilkan bunyi gemercik air Danau Toba yang memecahkan keheningan. Pohon rindang melambaikan daunnya seakan memberikan salam kepadanya yang sedang berenang mengikuti kapal-kapal pedagang dari seberang danau. Tak ada kicau burung sore itu, mungkin kota kecil itu tak seindah kota impian yang sering diceritakan di komik anak-anak. Tapi cukup indah untuk dijadikan inspirasi dan belajar dengan alam, memahami dan berkomunikasi dengan alam. Namun aku tak cukup bijak, tak satu pun aku tahu nama kupu-kupu indah yang sedang menghisap madu kembang merah itu. Indah, indah sekali, jauh lebih indah daripada lirik lagu slank.
Sementara perempuan-perempuan perkasa yang sudah setengah baya dengan tegar memegang erat palunya, menghantamkannya kuat diatas bongkahan batu, memecah batu untuk dijual kepada para tengkulak. Sementara itu seorang pemuda melepas kaos oblongnya yang sudah kumal, kaos putih itu tak cukup putih lagi, mungkin lebih tepat jika disebut warna kuning keabu-abuan. Dadanya yang berkeringat terlihat jelas, rusuknya tampak terbungkus selembar kulit, nyaris tak berotot namun terlihat kuat. Digenggamnya jala ikannya ditangan kanan, berjalan tanpa alas kaki di atas bebatuan pantai Danau Toba yang licin. Tampak sudah terbiasa, tak ada keraguan mengayunkan langkah, tak ada ketakutan akan jatuh, Pandangannya dengan pasti menuju hamparan air yang melimpah, biru dan kaya.
Kuraih kertas sketsa yang selalu kubaya di tas hitam kecil dipinggangku. Spontan, tanpa canggung sedikit pun, aku menggenggam pensil kesayanganku yang tak lebih panjang dari sebatang rokok itu. Kugoreskan ujung pensil itu, berharap akan menciptakan mahakarya, bak Leonardo da Vinci beraksi melukis ‘Monalisa’, atau mungkin aku sedang menirukan gaya Michaelangelo, pelukis yang begitu aku kagumi jauh melebihi Leonardo da Vinci, ataupun Picasso. Kuniatkan hati kecilku melukiskan semua dilema sulitnya bertahan hidup di atas tanah seindah ini, dengan hamparan Danau Toba yang indah.
Bosan sudah aku menggoreskan pensil itu, serasa sketsaku semakin tak berwujud. Tak sanggup aku melukiskan keindahan alam bahkan sebatas menceritakan mahakarya sang pencipta pun aku tak sanggup. Kutinggalkan sketsa itu begitu saja, berharap akan ada orang yang menemukannya, meraihnya, menyimpannya, dan mengoleksinya, siapa tahu 50 tahun atau 100 tahun yang akan datang, lukisan tak berwujud itu menjadi saksi keindahan kota kecil itu, keindahan Danau Toba yang kemungkinan besar akan rusak ditelan kerakusan si kaya yang mendirikan perusahan Tambang di sebrang danau itu, atau orang asing yang selalu menebang pohon indah di sekeliling Danau Toba.
Selesai sudah cerita hari ini, seraya tenggelamnya matahari di balik pegunungan Bukit Barisan. Cahayanya yang kuning keemasan memantul di atas Danau Toba, seakan mengingatkanku agar lebih sering bercermin seperti Abiet G Ade melantunkan baladanya “bercerminlah dan banyak bercermin”.
Memory Art by Watchson
Bandung, 20 Oktober 2009
Melukiskan Dilema (part 1)
Perjalananharikedua
Tak berubah style dan gaya berpakaianku, tas mungil kecil hitam itu masih melekat di jeans ketat ku. Berjalan dengan santai menikmati ketenangan dusun kecil di lereng pegunungan Bukit Barisan. Kali ini tak ada kicau burung aku dengar. Tapi terlihat jelas oleh aku kawanan kerbau gemuk yang dengan lahap memakan rumput di pinggir gunung yang terlihat semakin tahun semakin menggundul saja. Aku yakin bukan kerbau-kerbau itu yang patut dipersalahakan, sebab bukan karena memakan rumput dengan lahap sehingga pegunungan bukit barisan itu gundul. Bukan juga si anak kecil penggembala itu yang menjadi dalangnya. Sebenarnya tak sulit untuk memberikan argumentasi dan tuduhan kepada pihak-pihak yang bertanggung jawab akan ini. Tapi aku menahan diri.
Dengan sedikit keraguan aku menghampiri si bocah gembala itu. Meski dia hanya lulusan Sekolah Dasar, tapi keberaniannya menikmati alam terbuka jauh melebihi keberanianku untuk sekedar beramah tamah dengannya. Mengapa setelah sekarang aku menjadi canggung di kampung halamanku sendiri? Mengapa aku merasa aku tidak nyaman dengan bocah kecil yang melakoni hal yang sama dengan abang dan kakaknya bahkan sejak ayah dan kakeknya dahulul? Padahal dua belas tahun yang lalu tak jarang aku bermain bersama dengan abang sibocah sambil menangkap capung sewaktu dan mandi di sungai seusai dia menggembalakan kerbau jantannya. Mungkin karena aku telah menggendong tas pinggang kecil model terbaru yang trend dipakai anak muda gaul di Bandung.
Sore itu, sinar matahari mulai menunjukkan kemegahannya, cahayanya kuning keemasan menerpa airan sungai kecil dengan air jernih di pinggir pengunungan itu. Airnya masih bening seperti dulu, dan aku berharap akan tetap jernih sama seperti alirannya yang tetap bermuara di Danau Toba. Sejak siang tadi baru aku berani menghampiri bocah tadi setelah sore menjelang petang. Tak perlu berkenalan lagi, karena dia adalah adik teman baikku. Butuh sedikit basa-basi saja untuk memulai percakapan. Bagaimana kabar abangmu? Tanyaku dalam bahasa daerah Toba “Nga boha kabar ni abang mu boh?”. Meskipun sebenarnya aku sudah tahu abangnya menjadi kuli di pabrik kertas. Pabrik yang selama ini menebangi pohon di hutan-hutan di Tapanuli. Pabrik yang memberikan aroma tak sedap sepanjang hari, aroma yang menyengat dari bubur kertas yang dihasilkannya mirip bau rendaman pakaian selama satu minggu. Anehnya, hingga umurku sekarang menginjak 23 tahun, aku belum pernah melihat kertas hasil produksi pabrik itu. Semakin gundul pohon di Bukit Barisan, semakin mahal juga harga kertas yang harus dibeli. Ironi.
Kulanjutkan pembicaraanku dengan si bocah penggembala itu, sambil bernostalgia kuikuti dia ke pinggir sungai itu. Sementara dia mandi, kubasuh wajahku dan kubersihkan kaki tanganku, bukan untuk wudhu, tapi sekedar membersihkan badanku alakadarnya. Semakin matahari bersembunyi di balik pegunungan, semakin ramai bocah-bocah penggembala yang berjkumpul di sungai itu, persis apa yang aku lakukan bersama teman-temanku dulu. Meski aku bukan seorang penggembala, tapi aku bersama dengan mereka. Aku hanya bisa bersyukur, nasib yang telah digariskan di telapak tanganku sedikit lebih baik dari teman-temanku. Dari semua teman-temanku yang menikmati segarnya air sungai itu, hanya aku yang beruntung bisa kuliah dan mendapatkan gelar. Tak tahu setelah itu. Mungkin butuh lima hingga sepuluh tahun lagi, kampung ini harus menanti dengan sabar untuk mendapatkan satu orang generasi yang bisa kuliah seperti saya. Dan selama itu juga, bocah-bocah kampung ini akan merasa nyaman dengan kesehariannya sebagai gembala kerbau yang becita-cita menjadi buruh di pabrik kertas milik perusahaan asing itu. Hampir tak ada yang berubah, kecuali gunung yang semakin menggundul. Dan masih bersyukur sungai yang indah itu masih sejernih dulu, meski debit airnya jauh lebih kecil sekarang.
Hari berubah dari remang menjadi gelap malam, awan tertutup hitam dan gelap, hanya sedikit cahaya yang memendar dari lampu minyak yang dibawa gadis desa seusai mencuci pakaian di pinggir sungai. Badannya masih basah, dibungkus sarung tipis sebatas dada hingga lututnya. Rambutnya bergerai seirama dengan pinggulnya yang menarik perhatian. Wajahnya tak asing buat aku, sejak 8 tahun lalu aku tak bertemu dengan dia. Ingin aku menghampiri si gadis, tapi aku tak cukup percaya diri, akhirnya kusudahi perjalanan hari ini.
Memory Art by Watchson
Jakarta, November 2009
Melukiskan Dilema (part 2)
dimulaipukul4dinihari
Jauh berbeda dengan pengalamanku sebelumnya, tak cukup dengan sepasang kaki ini aku melangkah untuk melihat dan merasakan sepinya sambutan kota tempat aku menghabiskan masa kecilku dulu. Interaksi paling buruk dari semua perjalanan yang aku lakoni, hingga terasa sepi. Di kota ini, pertama kalinya aku mengecap pendidikan di bangku sekolah. Kota ini jauh dari pabrik kertas yang aku kisahkan sebelumnya, aku menaiki kendaraan umum. Pagi dini hari aku berangkat, berharap fajar menyambutku pagi nanti setelah 2 jam perjalanan. Hari ini hari Sabtu, para pedagang memenuhi angkutan umum itu, bersama barang dagangannya bersaing dan saling berdesakan.
Aku duduk di bangku paling belakang di dalam angkutan itu, di sampingku seorang ibu duduk di jok mobil yang tak lagi empuk itu. Diletakkannya tas kuning yang berwarna norak itu di pahanya. Sekejap aku yakin kalau tas tas ber-merk itu dibelinya dari pasar loak. Di pundaknya melingkar kain sambil menggendong anaknya yang paling bungsu, kain itulah yang disebut “parompa” oleh orang Batak.
Waktu itu masih jam 4 pagi, tak perlu menunggu lama semua seat di angkutan itu sudah terisi penuh, bahkan belebihan dan berdesakan. Seorang pria baru saja duduk di samping si ibu setelah mengikatkan karung berisi kain daganganngya diatas angkot itu. Bersama rekannya dia duduk di bangku paling belakang, menambah sempitnya angkutan itu. Bukan hanya space nya yang sempit, sesaat dia masih mengisap rokok 234 nya dan menghembuskannya di dalam angkot dan asap pun mengepul seketika itu juga terasa nafasku semakin sempit. Tapi itu tak berlanjut, begitu dia melihat si anak yang masih tertidur nyenyak di gendongan ibunya, saat itu juga dia mematikan api rokok nya seraya berucap kata “Santabi Nan Tulang… !”. Wajahnya terlihat amat bersalah dan berusaha meminta maaf dengan mencari kata yang paling pantas dikatakan untuk mengungkapkanya. Dan saat itu juga aku sadar, aku belum menemukan bahasa Batak yang bermakna “maaf”.
Angkot pun meluncur, lagu pance pondak menemani kami, bit lagu-lagu dari tape mobil itu sangat terasa karena jalan yang memang bergelombang. Bahkan semakin berlombang dari apa yang dulu aku rasakan sewaktu aku masih kanak-kanak. Kini jalan tak hanya bergelombang, di beberapa titik, jalan berlubang, kadang tergenang air. Semakin hari jalan semakin rusak, seiring dengan semakin ramainya truk besar milik pabrik kertas itu yang melewati jalan lintas propinsi itu. Perjalanan dua jam berlalu, tiba di kota itu dengan sambutan mentari yang hangat. Sinarnya yang eksotis menciptakan siluet ‘Salib Kasih raksasa’ itu di puncak Gunung Siatas Barita. Yaa… konon katanya, Salib raksasa itu dibangun tepat di lokasi penyebaran salah satu agama pertama kali dimulai. dari lokasi itulah I.L Nomensen memulai pengajarannya hingga ke sebagian besar tanah Batak. Kota ini diberkati oleh Tuhan, itulah yang diyakini masyarakat Silindung. Tetapi lebih dari itu aku yakin tak ada satu pun tempat di dunia ini yang tak diberkati Tuhan, apalagi tempat yang dikutuk menjadi daerah kemiskinan.
Sama seperti hari Sabtu setiap pekannya, biasanya di kota ini para pedangang dari desa berkumpul di pasar tradisional. Pasar itu tak jauh dari rumahku waktu aku masih tinggal di kota ini 10 tahun yang lalu. Namanya pasar tradisional, bukan mall atau pusat perbelanjaan. Tak ada yang tak becek, sama seperti pekarangan di belakang rumahku. bau busuk dari barang dagangan yang tak terjual sangat menusuk, kadang aromanya sampai ke rumahku. Sebelum aku meninggalkan pasar tradisional yang riuh ramai itu, aku masih sempat melihat si ibu tadi mengeluarkan sebungkus nasi dari tas kuning miliknya. Dengan sabar dia sambil menyuapi si anak bungsu dari 7 bersaudara itu, seraya mempersiapkan lapak kecil dan menggelar barang dagangannya. Sesekali dia terkesan cuek terhadap si anak mengemut nasi di mulutnya, sebab sesekali dia harus melayani pelanggan yang masih sepi.
Hampir tak ada yang berubah dari kota ini. Setelah berjalan keliling kota, Aku keluarkan kertas dari tas pinggangku. Duduk di pinggir jembatan sambil melihat air sungai yang semakin lama semakin keruh. Semakin jelas sebab cahaya mentari dengan tegas mendefenisikan warna air yang kecokelatan itu. Sungai itu membentang tepat di tengah kota. Kumulai menuliskan kisah dari perjalanan pagi ini. Tak habis-habisnya kata demi kata yang aku tuliskan. Hingga siang yang menyilaikan mata mengakhiri semangatku untuk menulis.
Kubaca ulang tulisanku. Mulai dari cerita si ibu yang berusaha demi anak-anaknya, termasuk anak bungsu di gendongannya. Supir angkot yang harus menyetor 70% keuntungannya buat pemilik angkot. Para tengkulak yang tersenyum di pojok pasar, Lelaki penjual kain yang merugi karena dagangannya tak laku terjual, sementara dia harus membayar ongkos angkot, makan di warung, dan membeli beberapa batang rokok. Huuh… ironi, rokok yang dihisapnya pasti lebih panjang dari pensil yang dia belikan untuk putri sulungnya 1 tahun yang lalu. Saat ini aku kehabisan kata-kata melukiskan ironi antara batang rokok dan pensil itu. Kusudahi petualanganku di kota ini. Aku ingin pulang ke rumah dan beristirahat sejenak, mengumpulkan ide dan mencari ilham berharap menemukan cara untuk melukiskan ironi.
Memory Art by Watchson
Bandung, 17 November 2009
Melukiskan Dilema (part 3)
ironisebatangpensil
Aku duduk,
sebuah pensil usang di genggamanku
kugeraskan perlahan di atas kertas itu
kertas yang juga usang sudah
Aku kecewa,
tulisan tak juga terasa berarti
seakan goresan yang hanya menumpahkan emosi,
akan kegagalan dan kebodohan
Kubuang pensil itu,
Pensil yang memang tak panjang lagi,
tak lebih dari 5 cm panajangnya
mungkin karena tua dan tersingkirkan tuts kmputer.
Hah,
haruskah aku melihat semua ini?
Sibocah memunggut pensil itu,
dengan baju seragam putih merahnya yang dekil dian mengusap pensil itu.
Dihadapan ayahnya yang dengan gagah.
Dengan gagah mengisap sebatang rokok…
yang memang rokok itu lebih panjang dari pensil anak tunggal kebanggannya…
Bandung, 8 Agustus 2009
Melukiskan Dilema (part 4)
karakterpertama
Kembali keangkuhanku tertunduk mengalah seakan memberi hormat dan tunduk kepada keajaiban yang baru aku sadari akhir-akhir ini. Setelah aku melihat dan merasakan apa yang sebenarnya ada di sekelilingku sejak lama. Mungkin aku baru saja menyadarinya karena keangkuhanku selama ini, atau mungkin Tuhan baru mengizinkan aku menyadarinya saat aku menjadi seperti aku yang sekarang ini. Kubuka semua tulisan dan sketsaku selama perjalanan imajinasiku mengelilingi Tapanuli. Masih banyak suasana yang terlewatkan dan tak tertuliskan dalam catatan ku, tapi tak ingin aku melupakan semua ini sambil memandangi dinding polos kamarku.
Kualihakan pandanganku, aku melihat dia, memperhatikannya dengan seksama, langkahnya tegap, celana jeansnya berat, menambah kokoh tapaknya melangkahkan kaki. Seakan aku baru mengenalnya, setelah tujuh tahun lalu kami bermain bersama, mencuri mangga bersama, berenang bersama, mandi di Danau Toba bersama. Ya, Danau Toba, danau yang cukup indah menurut penilaianku, tapi tak seindah keagungan penciptanya.
Di sana dia tumbuh menjadi lelaki yang kuat, menjalani hidupnya kini tanpa seorang ayah yang telah meninggal sejak dia remaja. Hari-harinya banyak dia ceritakan di hamparan air itu. Berenang seharian, mengikuti kapal-kapal pedagang dari seberang danau. Tak jarang dia menyelam hingga dasar danau demi berebut koin dengan anak-anak lainnya. Kadang hanya mendapatkan sekeping koin perak bergambar rumah gadang di salah satu sisinya dan gambar wayang di sisi lainnya, atau bahkan tak mendapatkan apa-apa tetapi dia tetap ceria. Koin-koin itu sengaja dilempar penumpang kapal ke dasar danau berharap mendapat tontonan atraksi anak-anak yang menyelam dengan lihai. Begitu dekatnya dia dengan danau itu, bagaikan mentari tak akan terbenam sebelum danau itu membasahi sekujur tubuhnya.
Tubuhnya kumal, setelah seharian di ladang gersang bersama kerbau-kerbau gembalaannya. Tak butuh banyak alasan buatnya untuk menggembalakan kerbau-kerbau itu. Demi sanghae (baca: satu paha) dari setiap kerbau itu, itulah jatah bagi mereka yang bersedia menggembalakan kerbau milik orang lain. Jika dia tidak sedang menggembalakan kerbau-kerbau itu, ditemaninya ibu, dan abangnya yang paling sulung, hendak membantu panen padi mereka yang sudah menguning. Maklum, jadwal panen di tempatnya tidak lagi beraturan, tergantung musim hujan yang tak menentu pula, sementara belum ada sistem irigasi, seperti subak yang diterapkan orang-orang di Bali.
Di sinilah keberuntungannya dia temukan, tempatnya berkat dicurahkan atasnya. Burung-burung memakan bulir-bulir padi itu, kemudian pergi terbang bebas ke langit, ke alam yang tiada batas. Ingin rasanya dia merasakan hal yang sama, berkelana hingga ke seberang danau, menguji nasib dan mulai bercita-cita. Tak ingin rasanya dia melewatkan malam nanti tanpa membaca buku usang milik kakak sulungnya yang 10 tahun lebih tua dari dia. Membaca di bawah lampu petromax yang remang-remang malam nanti.
Alam telah memberinya inspirasi, memberinya kesempatan untuk bermimpi, bercita-cita dan untuk itulah dia ada di sini sekarang. Demi menggapai pesan yang dititipkan kepadanya melalui burung-burung, burung yang terbang bebas tanpa keluh kesah karena burung itu yakin dia akan selalu dipelihara oleh penciptanya.
Dialah karakter pertama yang akan aku ceritakan dalam kisah para orang-orang yang telah beruntung diberikan kesempatan untuk bercita-cita. Kulit hitamnya adalah buah dari aktivitas kesehariannya yang selalu berenang di Danau Toba semasa kanak-kanaknya, meskipun sinar matahari membakar kulitnya, dia tidak akan ragu untuk menikmati alam. Rambutnya hitam, lurus dan dipotong pendek mirip bintara polisi. Matanya sipit hampir hanya terlihat segaris, berbeda dengan kebanyakan orang satu sukunya di tepi Danau Toba itu. Tapi pandangannya tajam. Suara lantang keluar dari tubuh yang tegap itu, kira-kira 165 cm tingginya, tak jauh beda dengan tinggi badanku. Badanya tidak besar, tapi otot keras membungkus tulangnya. cukup ideal untuk lelaki yang berbobot kira-kira 63 kg itu.
Tingkahnyanya yang kocak, luwes, ramah, dan sangat senang membuat lelucon-lelucon yang garing dan bercerita tentang alam. Sungguh karakter yang tidak tercermin dari wajah yang sangar itu. Hideung kupanggil dia
Memory Art by Watchson
diedit di Bandung, 18 november 2009
Melukiskan Dilema (part 5)
karakterkedua
Kualihkan pandanganku dari lelaki hitam itu. Terlintas di benakku kisah seorang teman yang dilahirkan di sebuah pulau yang fenomenal di Indonesia. Pulau itu berada di berada di atas danau terluas itu, Samosir namanya. Cukup luas untuk ukuran pulau di atas pulau. Tak cukup 4 jam perjalanan menggunakan mobil untuk mengitari jalur ringroad yang dibuat menyisir sekeliling pantai Samosir. Mungkin sekitar 6-7 jam perjalanan, atau bahkan seharian karena jalan tersebut sebenarnya masih sangat darurat untuk dilalui mobil. Perjalanan yang akan sangat melelahkan, tapi tidak akan pernah membosankan. Pasir putih di pantai, hamparan air, sawah yang menguning dengan serentak, hijau pantai dengan pohon kelapanya, situs-situs budaya, perkampungan tradisional, selih berganti menemani sepanjang jalan ringroute itu.
Di pantai sebelah barat, terdapat perkampungan yang masih lengang, tak terlihat ramai penduduk. Di sanalah dia dilahirkan. Ayahnya seorang guru menjadi selalu menginspirasi dan menumbuhkan semangatnya untuk belajar. Namun tak semudah itu, sudah menjadi kebiasaan dan tradisi di daerahnya seorang anak yang beranjak remaja akan menjadi seorang penggembala kerbau. Itulah aktivitas kesehariannya.
Tak ada istilah ‘tidur siang’ yang sangat dibenci anak-anak sekarang, tak ada kamus belajar tambahan alias kursus di sore hari, baginya setiap waktu adalah pelajaran, belajar dari alam. Belajar bertahan hidup ketika seorang gembala cilik diterpa hujan di tengah ladang luas. Belajar memilih tumbuhan dan serangga apa yang bisa dimakan untuk sekedar mengisi perut yang lapar selama menggembalakan kerbau-kerbau kesayangannya. Saat itu dia tidak mengenal uang saku apalagi istilah jajanan, sebab semuanya sudah tersedia di alam selama dia mau berusaha.
Kadang dia mengambil buah dari kebun milik orang lain saat lapar atau bahkan saat dia tergiur melihat buah nanas yang sebenarnya belum matang itu. Tapi yang paling sering adalah umbi ketela pohon yang selalu tersedia sepanjang tahun. Tak akan ada masalah yang terjadi meskipun pemilik kebun itu sadar ada orang yang telah mencuri hasil kebunnya, mungkin sudah tradisi dan maklum (baca: pengertian) akan tindak tanduk dan kondisi para gembala selagi hasil curiannya benar-benar untuk dikonsumsi saat menggembala dan tidak untuk dijual kembali.
Diambilnya ketela pohon itu, lalu dibakarnya. Asapnya yang mengepul menghindarkannya dari sengatan nyamuk dan serangga. Butuh keahlian khusus untuk menyalakan api dan memilih ranting-ranting yang akan dibakar. Tak semudah yang terlintas di pandangan kita. Semua keahlian ini dipelajarinya dari alam. Seruling bambunya menemaninya menunggu umbi-umbian itu matang. Dilantunkannya sebuah musik yang sedikit lambat, tiupannya bervibrasi, seakan bibirnya bergetar menghayati lagu yang meratapi nasibnya.
Itulah saat-saat yang tepat untuk merefleksikan dirinya dan merenungi nasibnya yang dengan seragam putih dan celana pendek merah menggembalakan sekawanan ternak yang bau dan dekil itu. Berharap akan sebuah perubahan, ditiupnya seruling bambu itu, nada-nada merdu, atau lebih tepat disebut menyedihkan, menemani hatinya yang masih merindukan sebuah perubahan untuk kampung halamannya. Harapan yang sederhana dari seorang bocah yang sekarang sudah menjadi seorang sarjana teknik lulusan perguruan tinggi terbaik di Bandung, mungkin terbaik di Indonesia. Impian itu masih terpatri di hatinya, cita-cita yang sulit dimengerti oleh sarjana-sarjana lulusan sabuga * saat ini. Harapan yang berkonotasi bodoh bagi sarjana yang berani menyebut dirinya sebagai penerus bangsa meskipun yang ada di pikirannya adalah bekerja bagi perusahaan luar negeri dengan gaji ‘dollar’ setinggi-tingginya. Huh… tetapi teman aku yang satu ini terpanggil untuk membangun daerah.
Dialah karakter kedua, wajahnya yang ta bisa menipu kalau dia adalah keturunan suku yang sangat bangga akan marganya dari daerah Samosir, tak sehitam Hideung, tapi kerut di antara hidung pipi dan bibirnya semakin lama semakin hitam. Suaranya yang melengking menjadi khas dalam setiap lagu yang dilantunkannya. Dengan nada yang naik satu oktaf dia sangat senang menyanyikan lagu berbahasa Batak. kemampuan bahasanya sangat tinggi dan hebat tapi khusus untuk Bahasa Batak, tidak demikian dengan Bahasa Indonesia yang hingga SMA hanya digunakannya ketika menjawab ulangan di sekolah. Apalagi Bahasa Inggris, mungkin hanya dipergunakan sewaktu pelajaran bahasa Inggris saja dan tentunya saat test TOEFL.
Nyaris tak ada kekonyolan dalam dirinya, tapi wajah dan logatnya cukup untuk membuat orang lain tak mampu menahan tawa melihat setiap aksinya. Tubuhnya tinggi, pinggang yang ramping, bahu yang bidang menambah tegap postur tubuhnya. Dari wajahnya tercermin kepolosan, lugu, tapi tak dungu. Otaknya yang brilian dan segudang pengalamannya menajdikannya seorang yang cepat menangkap dan mempelajari setiap hal yang baru dalam hidupnya. Tak jarang aku memanggil Yos.
Memory Art by Watchson
diedit di Bandung, 18 november 2009
Melukiskan Dilema (part 6)
No Responses Yet to “Story”