Kursi itu terasa tak nyaman aku duduki, warna hijaunya mulai pudar, dan penyangkahnya mulai tak kokoh menopang badanku yang terlihat ringkih dan tak terawat ini, mungkin karena telah dimakan usia, maklum sejak aku menginjakkan kaiku untuk pertama kalinya di kota ini, sekitar 5 tahun yang lalu, kursi itu sudah ada di pojok ruangan yang selalu ramai dengan kepulan rokok pemuda yang tak hentinya.

Inilah tempat favorit bagi kami nongkrong dan membicarakan segala hal yang kadang tak terduga apa topiknya, mulai dari haram tidaknya merokok, hingga tabiat dosen yang memberikan respon yang berberda antara mahasiswa dan mahasiswi. Ya, hari-hari sebagai mahasiswa memang sangat sulit ditebak kemana arahnya, bahkan menurut aku, perlu pegangan yang kuat   dan kaki yang kokoh untuk menapak jika ingin sukses dan meraih impian kita. Godaan dan pergaulan yang sulit untuk dipilah-pilah adalah alasan utamanya. Masih jelas di kepala ku pria botak dengan penampilan culun itu mengenakan kemeja, rapih dengan blue jeans.Ketika itu dia masih mahasiswa tingkat  dua dengan ambisi yang meluap-luap dan selalu study oriented, ta ada kompromi. Sekarang, aku tak tahu apa yang telah melunturkan kenangan dan impian itu, ini tahun ke 6 bagi nya, atpi tak kunjung juga punya dosen pembimbing. Yaq sudahlah… aku tak akan membahas dia… sia bukanlah topik yang perlu dibahas dan bukan itu maksud aku menuliskan postingan ini. Aku juga bingung mengapa distorsinya sejauh itu…

Kembali ke topik. aku duduk jongkok di atas kursi hijau itu. dari sudut yang sempit, di pojok ruangan itu, terlihat jelas di mata ku seorang gadis, berperawakan baik dengan wajah terawat dan memang dia sering bahkan hampir setiap hari menghabisakan waktunya di ruangan kumuh di salah satu perguruan tinggi favorit di Bandung.  Tak perlu aku mendeskripsikan perawakan gadis itu, yang pasti satu kata “cantik” aku rasa cukup untuk cerita singkat ini. Kesehariannya dia tidak pernah membeli sebatang rokok pun, ya, ini menurut pengakuannya beberapa saat sebelum aku menuliskan postingan ini.

Hari itu hujan rintik -rintik menambah suasana dingin di ruangan itu, meskipun secara kebersamaan semuanya sibuk saling menertawakan satu sama lain dan saling berbagi cerita. Tapi ada yang luput dari pengamatanku saat itu. Mungkin karena terlalu serius mengobrol dan berkata-kata tentang negara ini. Tangan kiri gadis itu kini mendekat ke arah bibirnya yang seksi, dengan gulungan tembakau yang terbakar diujungnya. merah api itu membara, menyambut kuluman bibir menhisap sedalam nafas yang tersisa. Bagai bom waktu, dia tak kuasa menahan nafas dan kepulan asap menutup wajahnya kabur bagai di balik kabut. Senikmat itukah rokok?

Aku sudah terbiasa melihat oran merokok, berteman dengan mereka dan mungki aku perokok pasif yang terparah yang selalu nongkrong di ruangan itu, tapi aku tak terbiasa melihat gadis merokok. Huh, baru kali ini gadis itu terlihat di mataku menghisap nikmatnya tembakau dunia ini. Dengan nada yang pelan, tapi pasti aku bentak dia. Aku tak tahu apa yang aka dia lakukan, bahkan aku tak mengerti apa yang sedang aku lakukan dan mengapa aku melakukannya. Tapi tak perlu mennggu beberapa lama, dibuangnya  tembakau itu. Aku senang, tapi aku sebenarnya tak berhak.  Ya sudahlah, yang penting dia tak merokok lagi, seraya aku berkata dalam hati, tapi aku harus minta maaf atas bentakan bernada rendah itu. Bodoh, aku telah membentak seorang gadis.

Sulit, sangat sulit untuk berkata maaf. Di tengah keributan dan kekacauan ramainya ruangan itu, kami berdua terdiam sejenak. Membisu. Ternyata tak cukup sejanak untuk mengembalikan suasana, kami masih terdiam, hampir 30 menit aku tak berani memandang wajahnya, meski di otakku sekarng yang ada hanya bagaimana caranya meminta maaf. bahkan aku tak bertanya lagi, benrkah aku harus minta maaf?

30 menit kemudian aku duduk di sampingnya dan aku berkata maaf, seraya kutepuk pundaknya dengan sangat grogi.

Haruskah aku meminta maaf?



No Responses Yet to “Sesulit itukah berkata maaf?”  

  1. No Comments Yet

Leave a Reply