kehidupan mahasiswa itu tak REAL
Buat mereka yang menganggap kehidupan mahasiswa ini tidak real.
Ingin mulut ini berucap, teriak dengan lantang, seakan hati tak berterima dengan semua perbedaan pendapat ini. Memang aku belum pernah merasakan lingkungan di antra orang-orang yang dipaksa kerja dan harus memikirkan sejumlah uaang untuk menghidupi dirinya. Sulit untuk mendapatkan sudut pandang yang mereka tempati untuk membentuk perspektif yang sedemikian berbedanya dengan apa yang sedang berada di otak ku ini.
Benarkah hidup mahasiswa ini tidak real? Benarkah kalo kita ingin merasakan kehidupan yang real harus terjun ke dunia kerja? Ingin aku berkata “BOHONG” itu semua, meski aku tak punya cukup argumentasi sebab aku belum merasakan indahnya kehidupan real (versi mereka) dengan sudut pandang yang mereka paparkan.
Semakin aku tak mengerti, kalau pun itu benar, berarti kehidupan mahasiswa ini tidak real. Mungkin saja, kehidupan mahasiswa ini tidak real, tapi itu hanya lah prinsip mereka saja. Bohong besar. Buat aku, kebodohan besar jika ada kehidupan di dunia ini yang tidak real, kecuali tayangan di sinetron-sinetron itu.
Sekecil apapun tantangan yang kita hadapi, itu adalah real,
sebodoh apapun aku sebagai mahasiswa, itu adalah kehidupan real.
Bahkan anak SD yang begitu lugunya mengucapkan selamat hari guru buat ibu gurunya, itulah adalah real.
Sekecil apapun kontribusiku buat negara ini, itu adalah lehidupan real,
Betapa menyedihkan mereka yang tidur di bawah jembatan itu, tapi aku rasa itu adalah kehidupan real
Bayi yang tak tahu apa-apa dan menangis ketika dak menyusui, itu adalah kehidupan real.
Orang pintar yang lulus cum laude dan bekerja di perusahaan luar negri, itu adalah real
Orang miskin, yang tak punya kesempatan belajar dan terpaksa jadi buruh perusahaan rokok, itu juga real
Ku perhatikan lagi mereka yang berkata kehidupan mahasiswa itu tak real. Dan tergerak hatiku untuk bertanya, apakah mereka tidak pernah merasakan masa kecil? Apakah mereka langsung menjadi dewasa dan bekerja, punya usaha dan berpikir untuk berkontribusi buat masyarakat? Itulah kebodohan besar buat aku, semuanya adalah proses, dan jangan berusaha menghilangkan tahapan-tahapan yang telah dilalui di awal.
Hey, siapapun kamu…., Bantu aku mendefenisikan kehidupan yang tak real ini?
Memory Art by Watchson
(mahasiswa yang katanya punya kehidupan yang tak real)
Filed under: 1 | 6 Comments
Gaudeamus Igitur….
Biasa itu Lae…, mungkin ketika mahasiswa, mereka tidak sadar bahwa mereka sebenarnya benar-benar hidup. Jadinya, sering membuat judgement seenak perut.
Mirip-miriplah dengan orang yang sering berkata ibadah itu mordong-ordong sekitar doa, baca firman, puasa, dan ritual lainnya. Hape nahuboto, ibadah adalah totalitas kehidupan.
Nikmati sajalah Laeku, biasa do i.
Horas
@sattabi
mauliate
akhirnya, ada juga jejak kakang di blog ini
@batakmordong
…
yup,
ibadah adalah totalitas kehidupan.
comrade, dengarkanlah
tetaplah menggores mata penamu comrade
tetaplah menyayat tajam lukismu comrade
tetaplah menggelora gelegar gumammu comrade
tetaplah nyalakan perapianmu comrade
tetaplah asah armor dan senjatamu comrade
akan tiba saatnya perang bergemuruh comrade
akan tiba saatnya berdiam diri ternyata tidaklah cukup comrade
akan tiba saatnya maju ke medan tempur adalah harga yang harus dibayar comrade
akan tiba saatnya ksatria sejati yang diasah pukulan martil dan bara api bersinar
hingga menutup mata berselimut keindahan karya the blacksmith dan the whitesmith
Akan tiba saatnya….
sebab
Semua indah pada waktunya