Berpikir tentang Generasi Muda
Dari pojok kampus yang katanya ternama di indonesia ini, kucoba menuliskan sekelumit tentang keseharianku. Tak ingin berlama-lama aku menyandang predikat Agent of Change ini… Huh, kata yang sangat sering aku dengar di sematkan dipundak mereka yang merasa dirinya benar-benar mahasiswa. Tapi aku bukan salah satu di antara mereka. Aku tak sebegitu bangganya disebut seorang mahasiswa, yang kelak diharapkan masyarakat. terlalu mengada-ada bagiku kebanggaan semu seperti itu.
Seminggu yang lalu, aku menyaksikan mereka-mereka yang jauh lebih pintar dari aku, mereka yang lulus lebih awal dari pada aku, menyaksikan acara wisuda mereka. Akhirnya mereka mendapat gelar Sarjana Teknik. Gelar yang mereka impikan sejak dulu, meskipun sebenarnya masih lebih berharap akan gelar Insinyur, tapi sudahlah, itu sama saja. Gelar yang menurut mereka akan memberikan jaminan hidup, dan dapat berbuat lebih banyak untuk bangsa dan negara ini.
Sementara, aku hanya masih duduk disini, mengetik penyesalanku selama ini. Aku telah menjadi potret Generasi Muda yang tidak dapat menyelesaikan kuliahnya. Tak banyak yang dapat aku perbuat saat ini, meskipun aku tahu apa yang seharusnya aku perbuat, dan aku sadar banyak hal yang seharusnya kau perbuat. Di pojok meja itu tergeletak dompetku, yang sejak aku mengenal dompet hingga hari ini, hanya itulah dompet yang aku miliki satu-satunya. kubiarkan begitu saja, tak ada yang harus ditakutkan, apalagi takut kehilangan uang. Tak lebih dari RP 30.000 rupiah isi dompet itu. Sedikit memang, tapi cukup banyak buatku melewati hari-hariku selama 5 hingga 6 hari ke depan. Ingin aku beritahu kalian semua, uang itu bukanlah uangku, aku hanya berperan sebagai mesin pengeluaran bagi kedua orangtua ku.
Hampir dapat aku simpulkan aku bukanlah generasi muda yang baik. Namun satu hal yang membuatku bangga sebagai mahasiswa, satu hal yang membuat aku bangga sebagai generasi muda, dan satu hal juga yang membuat aku bangga sebagai anak dari kedua orang tua ku, atau mungkin hal itu juga yang membuat aku berusaha menggapai impian ku. Ketika aku mulai lemah, aku ingat kebesaranNya memberikan aku kesempatan untuk hidup dan berusaha hingga saat ini. Meskipun aku mengecewakan, tapi aku tetap mendapatkan kesempatan.
Mungkin banyak orang yang merasakan hal yang sama, dan aku adalah orang yang beruntung menjadi salah satu diantara pejuang yang sedang berusaha. Tapi aku akan ajak kalian semua melihat kenyataan, betapa sulit bagi mereka mendapatkan kesempatan, betapa sulit bagi pemuda yang berjualan voucer pulsa elektronik itu mendapatkan pekerjaan, atau betapa susahnya seorang bocah yang menjajakan koran bekas di depan masjid itu?
Kesimpulan yang nyaris aku yakini seutuhnya, tak semuanya mereka menjadi generasi muda yang mengecewakan karena mereka menyianyiakan kesempatan, Mungkin mereka tidak mendapatkan kesempatan itu. Ingin aku bertanya buat teman-temanku yang lebih bijak dari aku, yang mendapatkan gelar Sarjana Tekniknya, yang lulus dengan predikat cumlaude, atau kepada temanku yang sudah siap mewarisi kekayaan orangtua nya, Apa yang seharusnya aku perbuat bagi mereka yang tak seberuntung aku dalam mendapatkan kesempatan?
I will …
Filed under: 1 | 2 Comments
so surprised….
aku pun tengah berjuang di atas sgala keterpurukan…
walau ku tak bisa sempurna…
tapi aku ingin melakukannya dengan cara yang sempurna…..
@Lenny
senang dapet comment dari seorang aktivis kampus dari yogya
terima kasih