Berjalan aku menyusuri kota kecil yang terlihat lengang itu. Hembusan angin seakan menyejukkan teriknya matahari siang tadi. Kulangkahkan tapakku, dengan tas hitam kecil di pinggangku aku berusaha memahami betapa indahnya sore itu. Aku tersadar, aku sedang berada di kota yang jauh lebih bersih dari kota tempat aku melanjutkan kuliahku di Bandung yang terkenal dengan kesejukkannya oleh orang-orang pemilik mobil mewah dari ibukota.

Kota kecil di Tapanuli, serasa sepi dan dingin menyandang kebanggaannya sebagai calon peraih Adipura. Nyaris tak ada kebisingan oleh kendaraan yang lalu lalang. Bahkan teriakan anak-anak bermain di atas lapangan rumput hijau itu mengingatkanku pada masa kecilku. Langit biru menyaksikan lapangan hijau itu berinteraksi dengan anak-anak yang sedang berebut bola kecil yang sudah usang. Di kejauhan, lompatan anak yang berkulit hitam itu semakin asik saja menghasilkan bunyi gemercik air Danau Toba yang memecahkan keheningan. Pohon rindang melambaikan daunnya seakan memberikan salam kepadanya yang sedang berenang mengikuti kapal-kapal pedagang dari seberang danau. Tak ada kicau burung sore itu, mungkin kota kecil itu tak seindah kota impian yang sering diceritakan di komik anak-anak. Tapi cukup indah untuk dijadikan inspirasi dan belajar dengan alam, memahami dan berkomunikasi dengan alam. Namun aku tak cukup bijak, tak satu pun aku tahu nama kupu-kupu indah yang sedang menghisap madu kembang merah itu. Indah, indah sekali, jauh lebih indah daripada lirik lagu slank.

Sementara perempuan-perempuan perkasa yang sudah setengah baya dengan tegar memegang erat palunya, menghantamkannya kuat diatas bongkahan batu, memecah batu untuk dijual kepada para tengkulak. Sementara itu seorang pemuda melepas kaos oblongnya yang sudah kumal, kaos putih itu tak cukup putih lagi, mungkin lebih tepat jika disebut warna kuning keabu-abuan. Dadanya yang berkeringat terlihat jelas, rusuknya tampak terbungkus selembar kulit, nyaris tak berotot namun terlihat kuat. Digenggamnya jala ikannya ditangan kanan, berjalan tanpa alas kaki di atas bebatuan pantai Danau Toba yang licin. Tampak sudah terbiasa, tak ada keraguan mengayunkan langkah, tak ada ketakutan akan jatuh, Pandangannya dengan pasti menuju hamparan air yang melimpah, biru dan kaya.

Kuraih kertas sketsa yang selalu kubaya di tas hitam kecil dipinggangku. Spontan, tanpa canggung sedikit pun, aku menggenggam pensil kesayanganku yang tak lebih panjang dari sebatang rokok itu. Kugoreskan ujung pensil itu, berharap akan menciptakan mahakarya, bak Leonardo da Vinci beraksi melukis ‘Monalisa’, atau mungkin aku sedang menirukan gaya Michaelangelo, pelukis yang begitu aku kagumi jauh melebihi Leonardo da Vinci, ataupun Picasso. Kuniatkan hati kecilku melukiskan semua dilema sulitnya bertahan hidup di atas tanah seindah ini, dengan hamparan Danau Toba yang indah.

Bosan sudah aku menggoreskan pensil itu, serasa sketsaku semakin tak berwujud. Tak sanggup aku melukiskan keindahan alam bahkan sebatas menceritakan mahakarya sang pencipta pun aku tak sanggup. Kutinggalkan sketsa itu begitu saja, berharap akan ada orang yang menemukannya, meraihnya, menyimpannya, dan mengoleksinya, siapa tahu 50 tahun atau 100 tahun yang akan datang, lukisan tak berwujud itu menjadi saksi keindahan kota kecil itu, keindahan Danau Toba yang kemungkinan besar akan rusak ditelan kerakusan si kaya yang mendirikan perusahan Tambang di sebrang danau itu, atau orang asing yang selalu menebang pohon indah di sekeliling Danau Toba.

Selesai sudah cerita hari ini, seraya tenggelamnya matahari di balik pegunungan Bukit Barisan. Cahayanya yang kuning keemasan memantul di atas Danau Toba, seakan mengingatkanku agar lebih sering bercermin seperti Abiet G Ade melantunkan baladanya “bercerminlah dan banyak bercermin”.

Memory Art by Watchson