Tak berubah style dan gaya berpakaianku, tas mungil kecil hitam itu masih melekat di jeans ketat ku. Berjalan dengan santai menikmati ketenangan dusun kecil di lereng pegunungan Bukit Barisan. Kali ini tak ada kicau burung aku dengar. Tapi terlihat jelas oleh aku kawanan kerbau gemuk yang dengan lahap memakan rumput di pinggir gunung yang terlihat semakin tahun semakin menggundul saja. Aku yakin bukan kerbau-kerbau itu yang patut dipersalahakan, sebab bukan karena memakan rumput dengan lahap sehingga pegunungan bukit barisan itu gundul. Bukan juga si anak kecil penggembala itu yang menjadi dalangnya. Sebenarnya tak sulit untuk memberikan argumentasi dan tuduhan kepada pihak-pihak yang bertanggung jawab akan ini. Tapi aku menahan diri.

Continue reading ‘Perjalanan hari kedua’


Aku kembali mengetik,
Lama sudah, baru aku memberanikan menuliskan beberapa kata,
Sejak kemarin aku menunggu keberanianku terkumpul,
Menuliskan pesan buat aku, bukan tentang kamu atau pun tentang dia,
Bukan berarti aku tak peduli dengan kamu semua ataupun tentang mereka.
Aku hanya mencoba melupakan dan meniadakan hal yang aku benci dari sikap kamu satu per satu,

Aku teringat dengan tumpukan kanvas yang kutinggal di Bandung
Ya, sebagain masih terpajang rapi di dinding kamar itu
dengan sombong dan sedikit tak tahu malu aku memamerkannya (dulu)
Sebagian lagi belum terpasang di frame kayu yang aku gergaji sendiri,
Si kanvas pasti sedang menunggu giliran mendapatkan warna (pasti ada warna merah)
Menunggu giliran yang tak tahu kapan tiba waktunya.

Tak hanya itu, kertas-kertas yang sudah aku rancang akan menjadi sebuah jilid buku
Kini mereka harus tertimpa buku-buku novel yang memang belum habis aku baca juga.
Kapan kertas itu akan menjadi jilid buku yang sampulnya bertuliskan ‘portfolio’?
Aku sendiri tak tahu kapan mimpi itu terwujud

Begitu juga dengan nasib penggaris usang di lemari itu
Lengkap dengan jangka pemberian yang sudah lama tak kusentuh
Kuas sederhana yang aku beli sejak aku kuliah di Bandung juga masih ada
Ujung bulu kuas juga sudah semakin rontok,
Cat berwarna di dalam tube yang mungil itu seakan membatu, kering

Sepatu abu-abu yang selalu aku kenakan entah masih disana
Ya, sepatu yang menemani aku dengan setia meski aku menginjak-injaknya
Sepatu itu yang menemani aku menaklukkan Puncak Gunung Papandayan
Sepatu itu yang menemani kaki yang gemetaran kala aku sidang Sarjana ku
Sepatu itu yang mendengarkan pengakuan dosaku setiap minggu di gereja
Sepatu itu yang melampiaskan semua emosi ketika aku menendang bola dan berlari di lapangan bola
Sepatu itu yang pernah aku jahit sebelum menemui mantan kekasihku

Terlalu banyak kenangan dengan sepatu itu
Hampir sama dengan kemeja coklak kotak-kotak itu yang aku tinggal disana
dengan rapih di hanger kugantungkan di lemari pakaian yang sudah mulai berdebu.

Belum lagi kenangan dengan botol bekas bubuk kopi itu..
Aku sudah menyimpannya lebih dari 4 tahun yang lalu.
Didalamnya aku isi semua jenis batu kerikil yang aku temui di setiap perjalanku
Ada batu dari Jatinangor, dari Pamengpeuk, Semarang,
Ada juga dari Depok, Punclut, Siliwangi,
Masih banyak lagi bahkan dari Bandara Soekarno Hatta
Semua dalam botol kecil itu, menghiasi dengan warnanya yang beragam
Di atas tumpukan kerikil itu jelas diingatanku sebuah gantungan kunci dengan logo Ganesha
Semuanya aku rendam di dalam air, sebab botol itu aku banjiri dengan air.
Dan tahukah kamu?
Air itu tak pernah aku ganti sejak aku mengisinya pertama kali
Itu sebabnya air itu mendengar dan mengetahui semua keluahanku ketika akhir bulan

Masih banyak kenangan yang lain bersama benda-benda lain…

Aku telah bersama kalian sejak aku tak punya apa-apa
Sejak aku tak bisa apa-apa aku sudah mengenal kalian
Kemarin aku berjumpa dengan seorang gadis dan berkenalan
Tetap saja akut ak bisa melupakan kalian
Sekarang aku masih tetap sesederhana dahulu
Dan aku masih mengenal kalian
Aku tak berharap bisa melupakan kalian

Memory Art by Watchson
Jakarta, 20 Oktober 2009
Mencoba mengetik kembali


Ketika aku menggoreskan tinta di atas kanvasku,
Aku berpikir aku tidak akan menjadi pelukis,
Tak sanggup diriku, pikirku sejenak
sebab aku memang tak mampu sehebat mereka

Tapi aku ingin ….
ingin menjadi yang terbaik

Pernah aku berpikir,

Seandainya lukisanku di bubuhi tanda tangan sang legenda L.Vinci
mungkin lukisanku akan menjadi hebat, dan sangat hebat
dan pengakuanmu terhadap lukisan ini akan aku dapatkan

akan berbeda kasus nya ketika lukisanku yang biasa-biasa ini hanya sekedar hadiah
ku hadiahkan kepada gadis yang melekat dalam hatiku
Mungkin dia akan memajang di dinding kamarnya
walaupun sekedar ingin menjaga perasaanku

Seandaiinya aku, yang berada dalam posisi paling lemah
lemah karena hidungku tersumbat dan sangat menjengkelkan
satu-satunya yang bisa menolong aku adalah jari kelingking yang paling kecil ini
Apakah aku akan sepele akan keberadaan jari kecil ini?

Jika aku menjadi orang yang besar, seoarang raja,
dan mendapat saran yang brilian dari orang-orang kepercayaanku dan mereka yang ingin aku pimpin
Pasti aku akan menerima saran itu, dan berkata “Tha’s a brilliant idea”

Apakah aku akan merasa terhina jika ternyata orang yang paling memberi aku inpirasi adalah orang yang tak kuduga? Seorang prajurit perang yang kurang kuat untuk mengangkat tinggi pedangnya,
namun dia berani maju ke medan perang… Dengan semangat ia berteriak dan menyampaikan hal yang menginspirasi aku? Hal itu adalah “Impian Perdamaian dan Keadilan”…

Ternyata bocah yang baru pertama kalinya menjadi prajurit itu bukanlah panglima perangku,
Ternyata bocah yang semangat itu juga bukan penasehat kerajaanku,
ternyata bukan juga satu dari ribuan pasukan berkudaku,
Dia hanya prajurit di bawah pimpinan musuh ku…

Lalu apa yang harus aku perbuat?

Memory Art By Watchson
Depok, 4 Oktober 2009
Maafkan aku, dan mudah-mudahan menyinggung perasaanmu
tapi bukan menjadi dendam di antara kita,
Masihkah engkau mempertanyakan prajurit lemah itu?


PERSPEKTIF
Antara aku yang terbiasa menerima,
Dia yang memberi,
Kamu yang bersedia berbagi dengan aku.

Kepada dia, yang member aku makan ketika aku baru menerima kiriman dari kampong
Buat kamu, yang berbagi sepiring nasi putih ketika di dompetku tersisa sekeping koin kuno saja

Kepada dia, yang dengan bangga menceritakan segala kesuksesan dan keaktifanmu di kampus
Buat kamu, yang meluangkan mendengarkan aku mengeluh tentang kuliahku

Kepada dia, yang dengan semangat memacu semangat tentang impian dan cita-cita
Buat kamu, yang dengan sabar bernostalgia tentang childhood friend kita masing-masing

Kepada dia, yang menerima gaji besar sebagai reward akan kesuksesan dan kerja keras
Buat kamu, yang berbagi kisah tentang kegagalan dan semangat bangikit dari keterpurukan

Kepada dia, yang dengan bangga membayar ongkos lapangan ketika kami bermain futsal
Buat kamu, yang menemani aku bermain PES di kost semalaman hingga pagi tiba

Kepada dia, yang ingin memberikan aku kesempatan berkarya di Paryasop
Buat kamu, yang bersedia berbagi kasur dan selimut yang sudah tipis itu dengan aku

Kepada dia, …
Buat kamu, …

Belum tentu apa yang dia miliki tidak kamu miliki, tetapi mengapa kamu berkecil hati?
Belum tentu dia tak dapat berbuat seperti apa yang kamu perbuat, janganlah kamu angkuh!

Terima kasih kepada dia dan kamu
Terima kasih buat kamu dan dia
atas segala perbedaan yang ada, hingga aku dapat kesempatan untuk memilih
memilih warna salah satu mozaik dalam hidup ini, agar hidup ini lebih ceria dan berwarna
untuk aku, kamu, dan dia…
untuk kita bersama, mari saling berbagi

Memory Art by Watchson,
Depok, 3 Oktober 2009
Pandangan dari perspektif yang berbeda

Catatan Pinggir:
Mengapa kita merasa diri kita di atas dan lebih layak memberi?
Alangkah lebih indah ketika kita saling berbagi…


Kesempatan yang sangat besar yang aku dapatkan ketika aku mulai berkata-kata tentang Paryasop, dan semua mimpi, impian dan cita-cita yang akan aku keluarkan dari dalam pemikiran yang sangat sederhana ini.
Berbicara tentang Soposurung, mungkin tidak aka nada habisnya buat aku, mungkin demikian juga dengan kita semua. Tentang semua kisah yang menarik yang telah kita lalui di asrama dan masa-masa kita kuliah. Tentang adik kelas yang terlihat begitu cantik ketika berjalan anggun di sepanjang selasar di depan majalah dinding (pengalaman pribadi, tetapi bukan pribadiku). Tentang senior yang ketika di asrama membentak-bentak aku dengan gagah, namun kini aku berbagi secangkir kopi dengannya (peace buat bang Indra), tentang lidah Batak ini yang dengan lugas berkata “dingin kali pun, sampe menerus” (menerus = manorus). Tentang beratnya kelopak mata ketika pelajaran sosiologi mulai diperdengarkan (alhasil aku pun di keluarkan dari kelas karena ngantuk). Tentang banyak hal, termasuk tentang semangat kita belajar demi lulus di ITB (satu-satunya institut di pulau jawa yang aku tahu).
Sekarang aku coba bercermin, mengapa bayangan sahabat-sahabatku selalu ada di cermin itu? Sering sekali mereka muncul dalam mozaik hidup ini. Mulai alumni yasop yang menjadi teman satu kost ku (na so bosan ra ahu holan na so kost dohot Lae Sitanggang). Ketika susahnya keuangan di akhir bulan, orang pertama yang kepikiran untuk tempat meminjam uang pasti anak Yasop. Ketika aku lagi suntuk di kuliah dan segudang kegiatan di kampus, teman aku berbagi cerita adalah anak Yasop. Ketika aku pergi, aku pasti akan teringat dengan teman-teman satu asrama.
Apakah ini hanya sekedar nostalgia?
Itulah yang aku anggap potensi besar Paryasop, ketika aku bisa berada bersama-sama dengan alumni Yasop yang lain, dengan nyaman aku bisa tampil apa adanya. Ketika aku bisa bermimpi dengan dan berbagi dengan sesame alumni yasop. Ketika aku bisa melangkah, kita melangkah bersama mewujudkan mimpi kita. Semangat inilah yang aku ingat selalu, yang akan menjadi potensi terbesar yang ada di komunitas ini. Semangat kebersamaan dan berbagi, SPIRIT OF SHARING. Sebab semuanya akan kita gapai bersama. Potensi inilah yang menjadi core dan semangat yang menjiwai karya kita, serta berangkat dari sinilah kita membentuk wajah Paryasop yang kita inginkan.
Seberapa pentingkah kekeluargaan itu?
Mungkinkah aku dapat makan dari sekedar kumpul-kumpul dengan anak Yasop?
Akankah Paryasop akan berkarya di Bonapasogit jika kegiatannya hanya bermain futsal saja?
Bilamana Paryasop punya badan usaha yang profit jika anggotanya hanya memikirkan Natal dan Paskah?
Benar, kekeluargaan akhirnya tiba dalam tahap “tak berguna” tak lebih dari sekedar nostalgia ketika diajukan pertannyaan-pertanyaan itu. Tapi diskusi kita tak sampai disini. Aku ajak kita membayangkan bangunan yang hanya berupa core dan lift di dalamnya. Demikianlah kekeluargaan itu. Jika potensi terbesar itu tak bisa dipergunakan, maka kekeluargaan itu pun tak ada artinya. Solusinya adalah, kita tinggal menempatkan semua angan dan impian kita di setiap lantai bangunan, sesuai dengan kapasitas anggota-anggota Paryasop. Katakan saja semisal sekretariat dan badan hukum di lantai dasar, mungkin di lobby. Di lantai dua terdapat konsultan struktur, di lantai tiga ada klinik bersalin, demikian sampai pada paling atas yang bisa di jangkau lift kekeluargaan itu. Di lantai paling atas itu terdapat konsultan arsitektur mungkin. Semunya disusun sesuai dengan kebutuhan kita dan akan seperti apa fasade dan wajah bangunan paryasop itu akan kita bangun. Tak masalah lagi mengaksesnya, dengan mudah kita akan mencapi cita-cita kita bersama, meski diletakkan di lantai paling atas sekalipun, tak akan terasa sulit lagi.
Selanjutnya kita harus berkaca, sudah sejauh mana kondisi Paryasop saat ini?
Yang pertama dibahas adalah kondisi core dan semangat kekeluargaan itu sendiri. Jawabannya sudah ada potensi yang kuat disana, potensi akan menjadi core yang jauh lebih tangguh, tapi harus kita akui tak cukup tangguh untuk menyatukan hati kita. Masih ada saja yang belum berada dalam kondisi ideal yang kita harapkan (sedikit banyak). Artinya, lift dan core kekeluargaan yang aku maksudkan tadi belum bisa menjadi potensi utama untuk mewujudkan keinginan kita di latai atas. Atau, masih ada saja orang yang ragu kalau lift ini tak cukup kuat untuk menjadi akses sirkulasi yang handal buat kita.
Tibalah saatnya aku dalam tahap kesimpulan dari pemikiran yang sederhana ini,
Melihat kondisi paryasop dengan bangunan core yang belum kuat, hal yang perlu dibenahi adalah kekeluargaan itu sendiri. Atau bisa saja kita secara pararel mencapai beberapa lantai di atas yang pasti tanpa lift, caranya adalah dengan menggunakan tangga, atau bahkan tangga kebakaran, atau bisa saja melalui crane. Poin pentingnya adalah, kita harus memulai dengan kerja keras. Konsep yang mantap tentang perencanaan lantai bangunan hingga lantai 20 atau lebih, akan terdengar seperti angin surga. Bukan salah, tapi kita harus focus. Kerja keras dan kondisi yang serba terbatas tentunya memiliki segudang variabel, dan salah satu yang paling penting adalah variabel WAKTU. Siapa yang bersedia bekerja keras untuk ini adalah pemimpin yang mengusung SERVANT LEADERSHIP.
Itulah yang kami tawarkan.

Memory Art by Watchson
Jakarta, 5 Oktober 2009


Kapan aku pergi jauh dari kota ini?
dari pulau ini?
dari pandangan mu?
kapan semua ini akan berjalan sesuai takdir?
Ingin aku memastikannya,
memastikan saran dari kamu semua dan berkata
ya pergi saja, dan semangat, semoga sukses, semoga diberkati, dst…
(dan aku sadar semua itu hanya basa-basi)

Memory Art by Watchson


Hey….!
Jangan berpura-pura PUTIH dan tak mengerti apa keuntungannya
Keuntungannya adalah salah satu dari Hamoraon, Hasangapon, Hagabeon
(based on my opinion)
Apa saja yang termasuk dalam HASANGAPON itu?
untuk apa kamu rela berkorban untuk itu?

Memory Art by Watchson
Jakarta, 1 Oktober 2009
Sekedar opini, kala aku duduk sendiri membaca milis.
Tak bermaksud menyudutkan, tidak juga mengharapkan klarifikasi


Menanti dia, andai senyumnya buatku, senyum itu saja tak perlu aku tahu isi hatinya. Tetapi senyuman akan kutunggu esok, agar kudekap asa yang tak seberapa ini , menantikan mentari terbit kembali. Tahukah kamu bahwa aku tak malu ikut-ikutan dengan pendapat mereka, sebab aku akui engkau cantik, bukan hatimu (aku tak tahu isi hatimu) tapi lentik bulu matamu…


Duduk,

Aku menekan tombol power di CPU komputer, berniat untuk menuliskan pesan. Sebuah pesan buat sahabat yang duduk ceria di sampingku. Ingin aku bertanya kepadanya, benarkah engkau sungguh ceria? Apa yang engkau pikirkan sobat? Tentang hidup ini yang esok nanti pasti akan berakhir kah? Atau tentang tikus-tikus  penguasa yang berdiri sombong seakan tak punya cermin, setelah merampas hak si bocah yang diharuskan menjual koran untuk menyambung hidup? Atau tentang lukisan wanita yang kamu kagumi itu? Atau tentang seorang gadis yang menaruh hatinya bukan kepadamu? Apa sobat, apa yang kamu pikirkan?

Continue reading ‘Pesan ini untuk sahabat di kampus’


7 digit

23Aug09

terima kasih

terima kasih atas apa yang telah aku dapatkan,

atas kemurahan dan keramahan yang aku rasakan,

akan keceriaan yang semangat hidup dalam kesederhanaan,

akan apa yang aku punya dan dapat aku berikan bagi orang lain,

atas kesempatan untuk berbagi…

Terimakasih atas 7 digit yang aku boleh terima

sebab kemurahan kamu semua

terima kasih…!


Aku duduk,
sebuah pensil usang di genggamanku
kugeraskan perlahan di atas kertas itu
kertas yang juga usang sudah

Aku kecewa,
tulisan tak juga terasa berarti
seakan goresan yang hanya menumpahkan emosi,
akan kegagalan dan kebodohan

Kubuang pensil itu,
Pensil yang memang tak panjang lagi,
tak lebih dari 5 cm panajangnya
mungkin karena tua dan tersingkirkan tuts kmputer.

Hah,
haruskah aku melihat semua ini?
Sibocah memunggut pensil itu,
dengan baju seragam putih merahnya yang dekil dian mengusap pensil itu.
Dihadapan ayahnya yang dengan gagah.
Dengan gagah mengisap sebatang rokok…
yang memang rokok itu lebih panjang dari pensil anak tunggal kebanggannya…

Memory Art by Watchson


Kudengar lantunan lagu yang memang sudah tak asing lagi di telingaku
Seraya aku menuangkan selaksa harapan yang seakan lebih tepat dikatakan sebuah angan
Di dalam kamar yang sederhana ini aku tertunduk malu dan diam
Seakan dinding kamar ini menertawakan aku, dari segala arah mereka tertawa
Mungkin karena aku telah menyakiti dan merusak impian si dinding
Puluhan paku tertancap dalam menembus keangkuhannya yang masif
Namun keangkuhanku yang ingin memamerkan lukisan telah menyakiti si dinding
Apakah semua keindahan ini untuk dipamerkan?
Atau karena mereka iri, sebab mereka tak punya telinga mendengarkan syahdu nada lagu
Seakan hanya aku yang berhak menikmati lagu itu.
Benarkah lagu ini digubah untuk aku? Sejak kapan?
Kemarinkah? Minggu lalu? Tahun lalu? Atau tiga tahun yang lalu?
Atau sudahkah ini takdir sejak aku dilahirkan?

Untuk ke 365 x 3 kalinya aku dengarkan kembali lagu yang sama
Lagu yang sebelumnya telah membuat aku terbuai dengan ucap manisnya
Meski yakin esok, kenyataaan pahit akan melanda semesta kamar ini
Tak seindah yang aku bayangkan lagu itu, kadang manis, kadang juga pahit
Apakah seharusnya demikian?
1095 kali sudah,mungkin tidak untuk yang ke 1096
Sebab aku yakin, dengan hitungan detik seisi kamar ini akan menjadi transparan
Seakan semua dinding ditelanjangi, dan aku sedang duduk malu ada di sana
Atau mungkin saja dinding dan semua perabot akan berevolusi
Melihat, mendengar, dan menyaksikan apa yang terjadi
Tak butuh komando buat mereka tertawa lepas
Sebab di otaknya hanyalah merebut dan mendapat status kepemilikan akan lagu
Lagu yang selama ini menemani kesendirianku dalam bilik ini.
Kini semua nadanya bukan lagi milikku, mungkin esok akan menjadi milikmu

Buat kamu yang mengejar lagu, tertawalah


Diam…

06Aug09

Akhirnya aku lepas juga dari sensasi yang mengikatku, sensasi yang tercurahkan adalah kebodohan
Sebab hidup ini bukan untuk meraih sensasi, meski ada kebebasan untukmu mengejar sensasi
Bukan pula untuk status kepemilikan, sebab status hanya ada di otak orang yang ingin pamer
Bukan juga untuk memamerkan keindahan, walau kadang keindahan disadari ketika dinikmati
Bukan selamanya hanya menikmati, tetapi berbuatlah sesuatu yang indah
Tidak harus berteriak, bernyanyi, ataupun berkata-kata

Diam…

Rasakan keindahan akan kesederhanaan
Hidup sederhana

Memory Art by Watchson
Bandung, 6 Agustus 2009


ditemani justifikasi akan kegagalan dan sugesti akan kebahagian. aku belum sanggup, mungkin esok waktunya; di gedung yang mewah, bersama meraka; mereka yang mengikuti ajaran hidup yang sederhana.

Beberapa hari yang lalu… dalam keramaian dan hiruk pikuk teriak mereka yang mempertahankan sebuah nama dengan semangat, mungkin mengharapkan sebuah status tepatnya… aku bertemu kembali dengan diriku 5 tahun yang lalu. Tapi tak sepenuhnya sama dengan aku yang dulu, bukan juga seperti aku yang sekarang. Tapi aku berharap aku setidaknya bisa seperti dia yang aku temui itu dimasa depan. Mungkin tidak sekarang, mungkin tidak juga esok hari. lalu kapan? tanyaku dalam hati.

Selalu aku berharap menemukan diriku yang terbungkus dalam kesederhanaan, sebab aku yakin akan ajaran yang aku jalani saat ini, jaaran akan hidup sederhana. Aku belar dari banyak orang. Sepenggal mozaik kehidupan dan pelajaran singkat yang lebih tepatnya dikatakan auto kritik aku temukan dalam dia yang aku temui di malam itu. Tak kuasa aku menampik dan menyangkal ajaran yang lagi-lagi aku dengar dari orang lain. Mungkin bukan karena aku tak diberi kuasa, tetapi karena aku memang mengakui kuasa itu.

Tetapi…
haruskah aku selesaikan ini dalam sebuah paragraph yang berawal kata tapi? Inilah justifikasi yang aku bangun, akan ketidak sanggupanku mengikuti saran yang dia berikan kepada aku, saran akan sebuah komunitas yang baru yang akan selalu mengingatkan aku akan ajaran hidup sederhana itu. Akhirnya aku sanggup membuat sebuah justifikasi, mungkin bukan sekarang, sebab sekarang hari Sabtu. Mungkin bukan juga esok, sebab Minggu itu hari libur, atau bahkan bukan juga Senin-Jumat, karena saat itu aku harus beraktifitas layaknya seorang karyawan kantor yang sibuk… jadi kapan aku akan melakukannya?

Tidak…
Aku tidak bopleh hidup dalam rasa bersalah dan diliputi kegundahan… Haruskah aku tutup cerita ini dengan kegundahan dalam hati? Siapa yang dengan lancang telah berani mengatur hidupku? teriakku dengan sombong, aku akan menjadi diriku sendiri dengan caraku sendiri… itulah kebahagian dan kedamaian dalam hati,
Sugesti itupun terlontar dan tertancap dalam dan membekas dalam ubun-ubun ku.

Huuuhh..
Apakah aku harus mengalihkan isu ini atau sebaliknya mempertajam perjuangan yang tak seberapa ini? Kulupakan sejenak dia yang telah aku temui dan menyaran aku untuk memulainya Sabtu ini pukul 05 pm. Aku harus berbuat tidak sekedar justifikasi dan sugesti. Lebih baik esok Minggu, aku bersekutu di gedung mewah itu, tempat berkumpulnya orang-orang yang mengaku hidupnya mengikuti ajaran akan teladan hidup sederhana.

Memory Art by Watchson


Hei!
kata itu terucap ketika keberanian menyapa dia yang dengan sopan mengkritik penampilan ku dengan senyum di bibirnya, mengalihkan fokus mataku. Spontan aku kembali mendendangkan kebahagianku dalam hati…
Berbahagialah aku yang menghabiskan sepenggal kisah di depan sorot matamu yang binar menatapku.
Aku pernah berada di sampingmu, mengukir jejak yang tak mungkin aku rubah, melengkapi mozaik hidupku yang semakin hari semakin tua dan tak tahu kapan akhirnya, mungkin sudah dekat.

Ingin aku menggoreskan lukisan di ingatanmu, lukisan indah tentang penggalan cerita yang telah aku mulai, kita mulai, tanpa direncanakan, tanpa tendensi, tanpa selembar sutra yang menghalangi pandangan tentangmu, itu harapku.

Mungkin bukan hanya kamu, tapi dia, meraka, atau pun kalian. tapi keberadaanmu diantara mereka yang melukiskan mozaik hidupku adalah unik. Kalian semua unik, termasuk kamu.

Izinkanlah aku mendalami keunikan jiwamu, dan sudilah kiranya kamu menjadi sepenggal dalam kisah ku, kisah yang belum usai, hingga esok aku berharap sekecil apapun mozaik yang kiita ukir, akan menjadi kenangan kelak yang terukir di batu nisanku yang sederhana.

Memory Art by Watchson


Aku Lapar

18Jul09

Duduk,
menghempaskan jemariku diatas tuts komputer
memandang tegas ke arah layar yang online
menantikan segelas kopi hangat
menemani kesepianku dalam penantian…
penantian akan sebuah keheningan

Berhentilah berspekulasi dan berorasi…
Demi melepaskan dahaga akan raha haus mu
rasa haus akan kuasa…

Aku tak hanya ingin tidur nyenyak…
Diam lah sesaat…
Jika ingin mendengarkan rakyat mu hai tuan purnawirawan
akan terdengar oleh telinga mu
suara bisikan ku dengan jelas
memekakkan telinga mu
yang serasa tuli selam lima tahun terakhir ini…

Huuhh
Rasanya lebih baik aku berdiri..
meninggalkan kursi ini,
tak hanya menunggu kau yang sombong tuk mendengarku
Tapi aku berjanji…
Saatnya akn tiba…
Aku akan bangkit dan melompat..
Berteriak di gendang telingamu…

AKU LAPAR

Memory Art by Wathson


Berbahagialah aku…
yang bersama dengan kamu semua,
menghabiskan sepenggal dari perjalanan hidup aku,
bermimpi tentang sebuah impian,

Tak pernah terpikirkan oleh aku,
ketika bersama dengan kamu delapan tahun yang lalu
akan melewatkan hari
dan menggoreskan sebuah kenangan ini
hingga sekarang aku berharap
tentang kenangan yang akan teringat oleh kita
esok dan lusa,
tentang mimpi dan impian kamu dan aku

Berbahagialah aku…
bermimpi bersama dengan kamu
berharap sebuah angan
‘kan menjadi nyata…

To make the world yellow

Memory Art by Watchson


back…

13Jul09

Sorry my blog…, Its for a long time I didn’t do anything for you…
it’s a good momment for me activing something new on my wall…

thanks…
here I am…
Deka Watchson

Memory Art by Watchson


15.15

02Feb09

huh…

Rutinitas ini sangat membosankan, sesekali mataku terpejam dan pikirku pun ntah kemana. Tempat dimana aku duduk terasa semakin panas dan tak sedikitpun rasa nyaman yang ditawarkan. Aku ingin bebas.


Kursi itu terasa tak nyaman aku duduki, warna hijaunya mulai pudar, dan penyangkahnya mulai tak kokoh menopang badanku yang terlihat ringkih dan tak terawat ini, mungkin karena telah dimakan usia, maklum sejak aku menginjakkan kaiku untuk pertama kalinya di kota ini, sekitar 5 tahun yang lalu, kursi itu sudah ada di pojok ruangan yang selalu ramai dengan kepulan rokok pemuda yang tak hentinya.

Continue reading ‘Sesulit itukah berkata maaf?’


Blog ini mulai tak terurus lagi…

semakin jarang saya berkarya… sehingga tak ada yang bisa saya share buat Rekan-rekan pengunjung blog ini. Tepatnya saya terlalu sibuk berkarya diluar blog ini dan perhatian saya untuk blog ini semakin berkurang, sementara karya saya kadang tidak sesuai untuk ditampilkan dalam blog ini…

Yah mohon maaf jika untuk selanjutnya, blog ini hanya tempat menuangkan sejuta narasi yang sulit dimengerti… mungkin keseharian saya, yang intinya saya berusaha menulis untuk sesuatu yang bersifat menginspirasi… Meskipun saya akui bahwa tulisan saya selanjutnya sama sekali sulit untuk dikatakan dapat menginspirasi….

Bilakah aku mendapatkan apa yang aku inginkan dari blog ini? Tapi aku melupakannya sudah, dan kembali bertanya:

What I have to do with this blog for all of  you? I wanna t share, but what I have to share?… would you like to tell me please?

Memory Art by Watchson


Kuangkat kumpulan kertas A4 yang telah aku goreskan dengan berbagai media dan jujur, aku sangat banga ketika menggenggamnya meskipun goretan-goretan itu lebih layak disebut kumpulan kertas lusuh.

Kutarik secarik kertas, tepat dari bagian bawah kanan kertas tersebut. Tepat di bawah ibu jari ku, tertutup tulisan yang berbunyi “Memory Art by watchson”. Ibarat sebuah lukisan terkenal yang dibubuhi tanda tangan sang seniman.  Bertanya dalam arti, apa arti kata-kata ini…

Continue reading ‘About “Memory Art by Watchson”’


pertanyaan yang sangat sulit untuk saya jawab, sebab ini menyangkut komitmen…
teramat banyak ang harus aku kerjakan…. sampai-sampai aku tak mengerti apa yang seharusnya aku dahulukan… Tapi tahun ini adalah tahun untuk berkarya. KUbiarkan tahun 2008 berlalu, dengan sejuta kenangan dan menajdi tahun eksperimen yang aku jalani dengan sejuta tantangan dan kegagalan, namun dari celah-celah kesulitan ini masih terpancar secercah sinar harap…

Ingin aku menggoreskan kuas di atas kanvas

Memory Art by Watchson


Some body help me….

Anybody…

nobody…

Hampir semua orang yang aku temui berkata demikian, ketika mereka mengejar impian mereka mendapatkan sebuah gelar sarjana. Wajar aku rasa, bahkan steramat wajar, sebab ini adalah perjuangan. Perjuangan demi sebuah gelar yang disisipkan di nama babtis kita masing-masing, tak terkecuali aku.

Continue reading ‘Demi Gelar Sarjana’


3000 hits

17Dec08

Akhirnya, hari yag kutungggu-tunggu pun telah tiba…,

Beberapa bulan yang lalu, aku menuliskan postingan pertamaku didunia internet. Huh, tak terpikirkan buat aku dulu untuk menjadikan ini sebuah rutinitas, namun sekarang segalanya berbeda. Tak terpikirkan juga oleh ku, ternyata dalam waktu yang terasa singkat ini, dengan kefakuman di awal pembuatan blog ini, blog ini telah mencapai 3000 hits (bahkan lebih)

total: 3027 hits

Continue reading ‘3000 hits’


Buat mereka yang menganggap kehidupan mahasiswa ini tidak real.

Ingin mulut ini berucap, teriak dengan lantang, seakan hati tak berterima dengan semua perbedaan pendapat ini. Memang aku belum pernah merasakan lingkungan di antra orang-orang yang dipaksa kerja dan harus memikirkan sejumlah uaang untuk menghidupi dirinya. Sulit untuk mendapatkan sudut pandang yang mereka tempati untuk membentuk perspektif yang sedemikian berbedanya dengan apa yang sedang berada di otak ku ini.

Continue reading ‘kehidupan mahasiswa itu tak REAL’


Betapa melekatnya slogan itu dalam otak ini, hampir tak bisa terbantahkan ketika slogan itu mengalahkan segala materialisme. Betapa slogan itu menginspirasi sejuta umat yang hidupnya sederhana dan lebih mengutamakan kebahagiaan, kedamaian yang tak akan mampu diwujudkan oleh jutaan keping koin yang aku miliki.

Continue reading ‘What money can buy’


Sebuah pesan dari aku yang tak bisa berkontribusi untuk kemahasiswaan di kampus ini. Mungkin bukan hanya aku yang tak berkontribusi (pikirku dalam hati), tapi itu bukan jadi alasan untuk menjadi sebuah pembenaran (jawabku dengan lantang). Usai sudah eraku, kesempatan semakin kecil tapi satu hal yang ingin kusampaikan buat kader-kaderku di ruangan dengan mezaninnya yang tak dapat kulupakan.

Continue reading ‘Untuk Namanya Gunadharma’


Character

19Nov08

membaca sebuah artikel yang ditulis disebuah web bernuansa Batak, baru beberapa menit yang lalu. Rasanya sangat menggelitik buat aku yang mengaku diriku ini mahasiswa yang akan membawa perubahan. Dasar kemahasiswaan, kata-kata agent of change itu serasa tinggal slogan belaka di balik jaket himpunan kemahasiswaan ini. nyaris tak ada implikasi yang tertuang lewat tangan yang kerjanya hanya sketsa ini.

Continue reading ‘Inovasi sebuah pertanyaan dan jawaban’


Beberapa saat lagi, di tengah-tengah kesibukan kita masing-masing kita akan merayakan Natal. Yup, aku rasa hal yang sudah sering bahkan sangat sering kita dengar. hampir tak ada bedanya dengan perayaan yang kita rayaakn setiap tahunnya. Aku ingin sesuatu yang berbeda.

Continue reading ‘Berharap Sesuatu yang Berbeda’


Tak mudah untuk dimengerti, mengapa aku sangat jarang menemukan kondisi yang mendukung buat kau berkreasi dan berkarya. Tapi aku sangat paham alasan mereka meminggirkan keberadaanku. Entah mereka dengan sadar atau berpura-pura tidak tahu demi kata wibawa dan disiplin seorang pemimpin. Mungkin saja bukan pemimpin tetapi penguasa, pikirku dalam hati.

Minggu kemarin, aku “diusir” dari gubuk gratis berukuran 2m x 1.5m yang telah aku diami beberapa bulan terakhir ini. dari ruang yang aku sendiri tahu bukan tempat itu bukan untuk aku jadikan hunian. Aku ingin kalian semua tahu apa alasanku untuk menjadikan tempat itu sebagai rumah (home) buat aku. Tuntutan untuk bertahan hidup dan ber


Didedikasikan buat seorang teman, yang memaknai hidup dan selalu berbagi.

Hari ni hari yang sulit bagi aku. Menghadapi mereka yang memaksa aku bertindak sesuai dengan harapan mereka sendiri, demi sebuah gelar. Terkadang sangat berat bagi aku melakukan semua hal itu, sebab banyak hal harus saya korbankan untuk hal ini. Tak ada alasan untuk berterima atau tidak, sebab dunia yang tak adil ini memaksa aku untuk berkata ya.

Tapi itu tak seberapa dibanding dengan apa yang dia hadapi. Harus menukarkan gambar Soeharto itu untuk menyambung hidupnya. Rasanya sulit untuk berbuat sesuatu, sedangkan untuk sekedar mengerti sangat sulit rasanya.

Sekalipun sulit bagi mereka untuk mengatakan tindakanmu benar, tapi bagi aku, hanya mereka salah besar yang begitu teganya menyalahkan tindakanmu. Sebab mereka itu tak mengerti kalu Tuhan akan selalu memmbukakan pintu sabar dan kesempatan bagi hambanya. Sebab mereka tak merasakan seperti apa yang telah kamu rasakan.

Tapi aku akan sangat merasa bersalah membiarkanmu sendiri menjalani kasus mu tanpa sebuah solusi dari aku yang selalu meminta pertolongan, dan yang tak pernah kamu tolak.

Ya Tuhan, maafkan kesalahan dan kelalaian hamba Mu ini,

Aku berdoa dengan penuh harapan akan sebuah kebijaksanaan yang daripadaMu. Semoga eldelweiss ini dianggap layu oleh mereka yang membuat peraturan.

Amin.


Dari pojok kampus yang katanya ternama di indonesia ini, kucoba menuliskan sekelumit tentang keseharianku. Tak ingin berlama-lama aku menyandang predikat Agent of Change ini… Huh, kata yang sangat sering aku dengar di sematkan dipundak mereka yang merasa dirinya benar-benar mahasiswa. Tapi aku bukan salah satu di antara mereka. Aku tak sebegitu bangganya disebut seorang mahasiswa, yang kelak diharapkan masyarakat. terlalu mengada-ada bagiku kebanggaan semu seperti itu.

Continue reading ‘Berpikir tentang Generasi Muda’


Rura Silindung

27Oct08

RURA SILINDUNG

(Ciptaan Nahum Situmorang)

Molo maguling si rumandang ari i

Soluk maro si rumondang bulan i

Huhut mangkuling sese di balian i

Lao mangendehon rura silindung nauli

Rura silindung

Rura na sun denggan i

Lambok malilung

Na marbuju na disi

Di pukul opat

Di robot ni borngin i

Disipe mulak

Si doli pangaririt i

l Rura Silindung l

l Nahum Situmorang l

l sumber l


Que sera-sera

what ever will be, will be

LIrik lagu itu mengingatkanku pada pengharapan, impian dan cita-cita. Banyak hal yang harus aku perjuangkan dan aku lakukan demi sebuah kesuksesan. Entah siapa yang selalu mengingatkanku untuk berjuang? Atau apa yang selalu menginspirasi aku untuk tetap berkarya? Melintas dipikiranku pertanyaan-pertanyaan retorika dan bodoh itu. Antara berkhayal, bermimpi dan berangan-angan akan suatu rencana besar dalam hidup ini. Kusingkirkan segera bualan itu dan aku bergegas dari tempat tidurku yang beralaskan papan hitam, mirip s3 biuah loker tahun 60-an yang dijejerkan diruangan sempit itu. Mungkin itulah hal paling berharga yang aku milki saat ini, keberadaan ruangan yang tak lebih dari 1,75m x 2 m itu menjadi kebanggaanku. Mereka yang melihat aku terlentang, tidur dengan pulas mengatakan ruangan itu adalah apartemen pribadiku. Satu-satunya tempat tidur yang paling mewah dan paling nyaman yang dimiliki anak-anak sebayaku di daerah ini.

Continue reading ‘Seandainya Generasi Muda ‘…’’


Memory art by watchson

I am a lucky man…

22 years ago, I was born in creative and romantic town, Bandung. But it was just for a little time because I had to go Tapanuli. Art deco and colonial building style became a motivation in my mind to have a wish to live in Bandung, my homeland. It was my first dream when I was just a little boy. That was a great dreams for a young boy who live in Tapanuli.

Continue reading ‘I am a lucky man…’


Did I lost my “Sketsa Budaya”

Berbagi akan sebuah karya adalah hal yang sangat mulia, tetapi meminjamkan (baca: meminjamkan) sesuatu kepada orang yang tidak tepat, sama aja halnya dengan membuang dan menyianyiakan talenta untuk hal yang paling tak berguna…


Berjalan aku menyusuri kota kecil yang terlihat lengang itu. Hembusan angin seakan menyejukkan teriknya matahari siang tadi. Kulangkahkan tapakku, dengan tas hitam kecil di pinggangku aku berusaha memahami betapa indahnya sore itu. Aku tersadar, aku sedang berada di kota yang jauh lebih bersih dari kota tempat aku melanjutkan kuliahku di Bandung yang terkenal dengan kesejukkannya oleh orang-orang pemilik mobil mewah dari ibukota.

Kota kecil di Tapanuli, serasa sepi dan dingin menyandang kebanggaannya sebagai calon peraih Adipura. Nyaris tak ada kebisingan oleh kendaraan yang lalu lalang. Bahkan teriakan anak-anak bermain di atas lapangan rumput hijau itu mengingatkanku pada masa kecilku. Langit biru menyaksikan lapangan hijau itu berinteraksi dengan anak-anak yang sedang berebut bola kecil yang sudah usang. Di kejauhan, lompatan anak yang berkulit hitam itu semakin asik saja menghasilkan bunyi gemercik air Danau Toba yang memecahkan keheningan. Pohon rindang melambaikan daunnya seakan memberikan salam kepadanya yang sedang berenang mengikuti kapal-kapal pedagang dari seberang danau. Tak ada kicau burung sore itu, mungkin kota kecil itu tak seindah kota impian yang sering diceritakan di komik anak-anak. Tapi cukup indah untuk dijadikan inspirasi dan belajar dengan alam, memahami dan berkomunikasi dengan alam. Namun aku tak cukup bijak, tak satu pun aku tahu nama kupu-kupu indah yang sedang menghisap madu kembang merah itu. Indah, indah sekali, jauh lebih indah daripada lirik lagu slank.

Continue reading ‘Melukiskan Dilema’


Impian

09Sep08

Impian adalah hal selalu memacu aku untuk tetap berusaha. Berusaha untuk tetap menjadi yang seseorang yang lebih baik, berusaha menjadi orang sukses, berusaha menjadi orang yang hidup dalam kerukunan, berusaha memerankan peranan kita dengan baik, berusaha menjadi orang yang hidup bersosialisasi, dan masih banyak usaha yang lain. Intinya setiap usaha itu berawal dari harapan dan cita-citaku.

Adakah yang akan menuntun aku menjaga impian ini agar tetap berada anganku? Berharap semangatku tetap menyala untuk tetap berusaha.

Mungkinkah usaha ini akan berakhir ketika aku mendapatkan impianku? keegoisan dan ketidakpuasanku akan menjawabnya, bagai ketamakan dalam diri aku akan mencari dan mencari hal yang baru dalam diri ini. Berharap ketika aku mengakhiri panggung sandiwara di dunia ini, itulah saat dimana aku telah menggapai semua impian dan cita-citaku.


Ketika aku masih kecil, semasa aku masih kanak-kanak, aku berharap menjadi seperti apa saja yang aku bayangkan baik saat itu. Saat itu semua kemungkinan masih terbuka lebar… Seharusnya aku bisa menjadi apa saja yang aku inginkan saat itu… Ternyata semuanya salah… Aku tak bisa menjadi seperti apa yang aku inginkan, saat ini aku bahkan tak tahu pasti apa dan bagaimana wujudnya menjadi sesuatu yang aku inginkan itu. Continue reading ‘menjadi seperti yang aku inginkan’


aku ingin menjadi seniman jalan

pilihan yang sulit

dengan dilema dan ironi yang mendalam

….oh…

masih kah engkau, hai gadis cantik

tetap menginspirasiku…

dan bersama ku selalu..

seniman jalan yang miskin…

kecintaanku terhadap seni melebihi kekagumanku pada mu…

tapi aku harus akui…

kamu adalah inpirasi buat aku…

Pertanyaan yang selalu terlintas dalam impian ku menjadi seniman….


Blog ini mulai tak terurus lagi…

semakin jarang saya berkarya… sehingga tak ada yang bisa saya share buat rekan-rekan pengunjung blog ini. Tepatnya saya terlalu sibuk berkarya diluar blog ini dan perhatian saya untuk blog ini semakin berkurang, sementara karya saya kadang tidak sesuai untuk ditampilkan dalam blog ini…

yah mohon maaf jika untuk selanjutnya, blog ini hanya tempat menuangkan sejuta narasi yang sulit dimengerti… mungkin keseharian saya, yang intinya saya berusaha menulis untuk sesuatu yang bersifat menginspirasi… Meskipun saya akui bahwa tulisan saya selanjutnya sama sekali sulit untuk dikatakan dapat menginspirasi….

hari ini saya duduk lesehan di sebuah warnet, bukan warnet yang mewah kelihatannya, tapi cukup cepat mengakses blog ini dan tidak ada waktu yang terbuang sia-sia untuk menunggu proses loading berakhir. sekat antar komputer yang terbuat dari kayu tripleks murahan dicat hitam menampilkan suasana yang mencekam di bilik ini, belum lagi ukurannya yang terlalu tinggi, kira-kira 1.5 meter tingginya.  Dasar orang yang tidak mengerti tentang kenyamanan visual dan desain interior.. pikirku dalam hati. Tapi belakangan saya tahu alasannya adalah untuk privasi yang selalu dicari-cari pala pelanggan warnet ini.

Continue reading ‘hei…. bangunan nan angkuh…’


sketsa wajah

15Jul08

download

… … … … … … .. . . . . . . . . . . … … … … … … .. . . . . . . . . . . … … … … … … .. . . . . . . . . . .

sketsa budaya.pdf (download)


1 ABAD KEBANGKITAN BANGSA

didesain khusus, sebagai wujud semangat untuk perjuangan bangsa selama

satu abad sudah kebangkitan nasional bergulir…

design by watchson

memory art by watchson


Sketsa budaya…

Berusaha melesatarikan budaya Batak… mungkin hal yang terdengar terlalu idealis, terlalu jauh untuk dicapai, tidak realistis dan terkesan hanya sebagai tujuan yang klise… Sketsa budaya memang sebuah pekerjaan yang menyangkut budaya, lantas apakah sketsa budaya bisa disebut sebuah upaya untuk melestarikan budaya? Memang masih jauh bahkan sangat jauh. Banyak orang yang mempertanyakan, akan dikemanakan hasil karya ini (sketsa budaya)? kemana tujuannya?

Sketsa budaya vol.1 sudah selesai…  tapi masih sangat terbatas untuk Sketsa Budaya Batak Toba… selanjutnya, saya pribadi sedang mengerjakan sketsa budaya vol.2. Rencananya Vol.2 ini berisikan arsitektur vernakular Batak, dengan pembahasan yang lebih rinci dan lebih mendalam…

Tujuannya sangat simple, kebanyakan orang tidak merasa tujuan untuk melesatarikan budaya Indonesia itu sangat klise… Saya mengajak kita untuk tidak berpikir yang terlalu jauh yang bisa membuat kita patah semangat untuk berkarya.

Inti dari sketsa budaya ini adalah inspirasi, inisiatif dan berkarya…

Ke tiga kata ini ternyata cukup ampuh untuk membakar semangat dan minta beberapa orang untuk berkarya dan mengembangkan sketsa budaya… Sekarang tidak hanya Batak Toba, salah satu unit kesenian di ITB, yang digerakkan mahasiswa, telah terinspirasi untuk melakukan hal yang sama untuk daerah dan budaya nya sendiri… besar harapan saya untuk mengembangkan dan membagi pengalaman saya tentang sketsa budaya ini, sehingga setiap orang yang membaca terinspirasi,berinisiatif dan berkarya…

intinya.. harapan besar saya adalah ketika Indonesia dengan segudang laboratorium budayanya yang sangat beragam memiliki sketsa budaya yang menarik dan artistik… Di sisi lain, saya secara pribadi berusaha membagikan pandangan saya tentang budaya. Kebanyakan orang menganggap budaya itu kuno, dan tidak dapat dikembangkan dan justru menghalangi perkembangan zaman. Bagi saya tidak.. budaya adalah sesuatu yang dapat dikembangkan dan harus dikembangkan dan BERNILAI.

Terkadang saya maklum ketika kebanyakan orang merasa budaya itu membosankan. Saya sendiri terkadang merasakan hal yang sama, apalgi ketika harus membaca buku-buku tentang budaya indonesia yang membosankan dengan sentuhan yang menurut saya artistik. Untuk itulah saya menggagas buku sketsa budaya sebagai upaya menampilkan dan memperkenalkan budaya dengan cara yang lebih menarik. Sentuhan yang artistik adalah jawaban, bagaimana cara kita untuk menarik perhatian orang banyak untuk melirik kembali segudang potensi tentang budaya Indonesia.

Terima kasih,

untuk saat ini saya belum bisa mem publish sketsa budaya vol.1 secara keseluruhan karena beberapa alasan teknis satu dan lain hal… (maaf ya, ditunggu aja).


hasil karya cat air…dengan sketsa cepat

cat air akan memberikan efek sketsa yang spontan….Hal inilah yang mendorong dan menjadi potensi cat air untuk disajikan dalam bentuk karya seni. Dalam proses sketsa cat air… hal efek spontanitas inilah yang harus kita pertahankan. Untuk itu diperlukan kecepatan dan spontanitas goresan kuas dalam sketsa.

Continue reading ‘cat air dan desain’


aula barat

23May08

Maha Karya,

Maha karya dalam bidang arsitektur ini masih bisa kita nikmati di Lokasi Institut Teknologi Bandung (ITB). Bangunan ini telah berdiri sejak pemerintahan Kolonial Belanda. Arsitektur tradisional dan teknologi dengan atap miring sebagai ciri khas arsitektur di daerah tropis ini memberikan warna yang berbeda dengan bangunan lain di era 1920-an. Bangunan ini merupakan satu dari sekina banyak maha karya arsitektur di kota Bandung. Meskipun demikian, bangunan ini tak kalah indah jika dibandingkan dengan

Gedung Sate (sekarang Kantor Gubernur Jawa Barat)

Villa Ishola (sekarang Gedung Rektorat Universitas Pendidikan Indonesia )

Villa Merah (terletak di Jalan taman sari, termasuk di kompleks bangunan ITB)

Braga (jejeran bangunan dengan langgam art deco),m

dan masih banyak lagi bangunan yang layak disebut maha karya dan sudah seharusnya kita melestarikan bangunan tersebut. Aula barat , merupakan bangunan yang dikonstruksi dengan kolom tanpa tulang. Pada era pembangunan Aula Barat, memang belum dikenal teknologi banguanan dengan kolom beton bertulang. Dengan demikian Aula Barat dikonstruksi dengan kolom yang besar yang terbuat dari batu kali. Sebuah kearifan lokal dengan menggunakan material yang sangat bersahabat dengan alam. Pada zamannya, memang material kayu, dan batu kali sangat mudah didapatkan.

Aula Barat menajadikan ITB, menjadi tempat dengan segudang sejarah…


57 halaman

sketsa budaya Batak Toba

memory art by watchson


sketsa cat air

21May08

hasil karya cat air…dengan sketsa cepat

cat air akan memberikan efek sketsa yang spontan….Hal inilah yang mendorong dan menjadi potensi cat air untuk disajikan dalam bentuk karya seni. Dalam proses sketsa cat air… hal efek spontanitas inilah yang harus kita pertahankan. Untuk itu diperlukan kecepatan dan spontanitas goresan kuas dalam sketsa.

Hal yang perlu dicatat adalah perbedaan lukisan dan sketsa…Sketsa berguna untuk merekam pbentuk objek. Jadi, sketsa hanya membutuhkan efek bahwa sketsa tersebut dapat memberikan gambaran objek yang dmaksud. Beda halnya dengan lukisan, biasanya lukisan biasanya harus di interpretasikan agar kita mengerti makna yang terkandung di dalamnya. Itu sebabnya kita sering menemukan lukisan yang kita tidak pahami artinya atau kita tak tahu objek apa yang dilukis, meskipun sekilas kita dapat berkomentar lukisan itu indah.

Namun di satu sisi memang kita harus mengakui kalau ternyata tak jarang karya sketsa tersebut bernilai seni, sama dengan lukisan. Menurut saya sketsa tidak harus indah, tapi sketsa harus baik dan benar…Baik dan benar yang dimaksud adalah dari segi persfektif yang benar (tidak distorsi), bayangan yang benar (shap and shadow), dan rendering yang menggambarkan material objek. hal hal inilah yang seharusnya dapat dipelajari dan dilatih…

Dalam hal ini, untuk menguasai sketsa yang baikada beberapa poin yang harus kita latih dan kita pelajari, antara lain:

1. analitical drawing

bagaimana kita dapat menganalisis bentuk objek yang akan kita sketsa dan mengimajinasikannya. Dalam hal ini imajinasi sangat berperan. Kita harus dapat mendefenisikan suatu bobjek terdiri dari unsur pembentuk apa saja, misalnya rumah sederhana terdiri dari bentuk kubus/ balok dan limas (atap). Dengan cara menganalisis bentuk ini, berarti kita harus berpikir dan bekerja secara umum dulu, kemudian detail sketsa di bagian akhir pekerjaan.

2. perspektif

kita harus dapat memilih bentuk perspektif agar tidak distorsi, misalnya satu titik hilang atau dua titik hilang. Biasanya untuk objek out dor digunakan perpektif dua titik hilang, sedangkan untuk indoor digunakan perpektif satu titik hilang. meskipun hal itu tidak mutlak benar untuk setiap kasus. Di sini kita perlu latihan dan banyak melihat contoh.

3. Shape and shadow

bentuk 3 dimensi dari sketsa akan lebih nyata ketika kita memberikan efek bayangan (shape and shadow)…Bayangan dan bayang-bayang. bayangan adalah bagian objek yang tertutup bayangan, sedangkan bayang-bayang adalah objek yang tidak terkena cahaya secara langsung.

4. rendering…

merupakan arsiran untuk objek agar material objek yang digambar dapat di jelaskan melalui sketsa. misalnya rendering untuk aspak yang kasar dengan rendering untuk kaca yang licin dan reflektif.

5. Berlatih

Selamat berlatih dan berkarya


crowded lonley

21May08

crowded lonley

memory art by: deka watchson



Sebuah ide dan pemikiran yang dituangkan dalam sketsa dan lukisan. Kumpulan sketsa ini merupakan wujud kebanggaan atas kelimpahan dan kekayaan budaya Indonesia khususnya seni dan budaya Batak Toba. Hendaknya kita berusaha melesatarikan dan mendokumentasikan sejumlah karya seni dan peninggalan sejarah yang berasal dari bangsa kita (Indonesia) khususnya tanah Batak Toba. Saya berusaha untuk menampilkan seni dan budaya Batak yang dianggap sudah kuno kepada masyarakat secara artistik dengan sentuhan desain.

SKETSA BUDAYA

Batak Toba, Sumatera Utara

Indonesia 2008

Seperangkat Alat Musik Batak Toba, Sketsa Budaya batak Toba

sketch by: Deka Watchson Sagala

Gondang, Sketsa Budaya BatakToba

sketch by: Deka Watchson Sagala

Garantung, Sketsa Budaya Batak Toba

sketch by: Deka Watchson Sagala

Ogung, Sketsa Budaya Batak Toba

sketch by: Deka Watchson Sagala

Hasapi, Sketsa Budaya BatakToba

sketch by: Deka Watchson Sagala

Sarune, Sketsa Budaya BatakToba

sketch by: Deka Watchson Sagala

Sulim, Sketsa Budaya BatakToba

sketch by: Deka Watchson Sagala

Kita sudah sepantasnya berbangga hati atas kekayaan seni dan budaya Indonesia, khususnya Batak Toba. Namun belum saatnya kita merasa puas dengan apa yang sudah kita capai dalam berkarya dan melayani. Melangkah ke depan dalam upaya melestarikan budaya Batak Toba menjadi sebuah upaya menunjukkan kepedulian kita terhadap seni dan budaya Batak Toba.

Banyak cara dan solusi untuk meningkatkan kembali animo masyarakat untuk menggali dan mengangkat seni dan kebudayaan Batak Toba lebih ke permukaan lagi. Misalnya melalui tulisan, komunikasi ilmiah, penelitian, seminar, jalur pertunjukan, pesta budaya atau pesta tahunan) dan jalur atraktif lainnya. Penulisan buku ini hanyalah sebagaian kecil dari upaya pelestarian budaya Indonesia, khususnya Batak Toba.

Tetap berkarya dan melayani.

Deka Watchson Sagala

phone +6281322097xxx

watchson@yahoo.com


By : Deka Watchson Sagala
watchson@yahoo.com
http://watchson.uni.cc

Kebudayaan merupkan hasil dari interaksi antara manusia dan lingkungan. Hasil karya arsitektur merupakan salah satu bagian dari budaya. Kebudayaan dalam bentuk arsitektural ini sering juga disebut arsitektur vernakular. Karya arsitektur ini merupakan sebuah hasil karya yang dihasilkan dari interaksi antara manusia dan lingkungannya.

Arsitektur vernakular sebagai hasil karya dalam hal ini sangat erat hubungannya dengan kebudayaan dan lingkungan dimana bangunan arsitektural tersebut berada. Banyak hal yang telah mempengaruhi perkembangan arsitektur vernakular atau yang sering disebut juga sebagai arsitektur tradisional. Sistem kekerabatan, sistem kemasyarakatan, sistem religi (kepercayaan), mata pencaharian, seni budaya, dan hal-hal yang terlibat dalam interaksi antara manusia dan lingkungannya tersebut.

Arsitektur tradisional di Indonesia merupakan segudang contoh kasus ibarat laboratorium yang kaya dan menarik dibahas untuk menerangkan bagaimana lingkungan dapat mempengaruhi hasil karya manusia dalam bentuk bangunan arsitektural. Dalam arsitektur Bali misalnya, faktor yang paling banyak mempengaruhi adalah sistem kepercayaan masyarakat Bali. Pengaruh ini sangat jelas juga terlihat dalam sistem kemasyarakatan dan kebudaayan Bali, sehingga sangat sulit bagi kita untuk memisahakan antara budaya dan kepercayaan dalam kehidupan bermasyarakat dan hasil karya kebudaaan di Bali.

Lain halnya dengan Arsitektur tradisional di daerah Batak, kebudayaan daerah Batak lebih banyak terinspirasi dari filosofi budaya Batak yaitu Dalihan na Tolu. Dalihan na Tolu merupakan sebuah sistem yang mengatur kehidupan masyarkat Batak dalam berinteraksi, bermasyarakat. Dalihan na Tolu secara umum menggambarkan bagaimana seseorang menempatkan diri dalam masyarakat. Hal ini diterapkan juga dalam arsitektur tradisional Batak. Misalnya saja pintu Ruma (nama rumah tradisional Batak Toba) yang dibuat sangat pendek sehingga setiap orang yang masuk harus menunduk terlebih dahulu. Hal ini berusaha menggambarkan bahwa setiap orang harus menempatkan diri dan hormat (dismbolkan dengan tunduk) kepada tuan rumah.

Tantangan saat ini adalah paraigma yang seakan-akan menyisihkan arsitektur vernacular. Anggapan bahwa Arsitektur vernacular yang sudah ketinggalan jaman, kuno dan tidak mampu bersaing dalam himpitan arsitektur minimlis saat ini sedikit-demi sedikit telah memudarkan makna sebenarnya dari arsitektur vernacular tersebut. Jika dilihat dari sisi kebudayaan yang jelas-jelas menerangkan arsritektur itu sebaga interaksi antara manusia dan lingkungannya, maka seharusnya arsitektur vernacular yang sangat kaya dan beragam di Indonesia mampu memberi peranan yang penting dan lebih luas di Indonesia.

Arsitektur vernacular merupakan karya yang telah melalu proses yang panjang dan telah berhasil memcahkan berbagai masalah di lingkungan arsitektur tersebut berada. Misalnya, Arsitektur vernacular di Indonesia secara nyata telah menyelesaikan masalah curah hujan yang tinggi di daerah tropis di Indonesia dengan atap miring pada bangunannya. Seharusnya tak perlu dipertanyakan lagi, bahwa atap miring merupakan sebuah hasil dari interaksi antara bangunan dan curah hujan di daerah tropis, dan hasil dari interaksi tersebut adlah bentuk bangunan dengan atap miring. Namun kenyataan di lapangan, tidak jarang kita menemui arsitek yang lebih sering menerapkan atap datar pada desain bangunannya di Indonesia.

Memang penerapan dan perkembangan teknologi yang sangat pesat sangat mendukung perkembangan arsitektur di Indonesia. Konstruksi beton, mampu diterapkan dalam pembuatan ekspresi bangunan dengan atap datar. Dalam hal ini arsitek yang merancang atap datar di Indonesia tak dapat disalahkan, sebab mereka hanyalah sebagaian dari sekian banyak arsitek yang menggunakan kemudahan dan perkembangan teknologi dalam desain arsitekturnya. Permasalahannya adalah bagaimana ketika arsitektur dengan teknologi tesebut tidak sepenuhnya dapat memecahkan masalah, bahkan mendatangkan masalah baru? Tidak jarang kita mendengar atap datar yang bocor.

Lalu bagaimana seorang arsitek menyikapi masalah seperti ini? Konstruksi dan teknologi yang lebih baik adalah solusinya. Namun di sisi lain, arsitektur vernacular adalah salah satu solusi yang telah teruji. Arsitektur tradisional tidak harus diterapkan secara utuh dalam disain arsitektur saat ini, namun hal yang harus diperhatikan adalah niali-niali yang terkandung dalam arsitektur vernacular tersebut. Contoh di atas (arsitektur di daerah tropis) adalah hanya sebagaian kecil dari seian banyak pesan yang dapat kita pelajari dari arsitektur vernacular. Masih banyak lagi yang dapat kita pelajari dari sekian banyak keragaman dan kekayaan budaya Indonesia.

Terima kasih…


By : Deka Watchson Sagala
watchson@yahoo.com
http://watchson.uni.cc

Pada dasarnya hasil karya arsitektural merupakan pengembangan upaya pemenuhan kebutuhan dari sebagai tempat tinggal. Kebutuhan akan tempat tinggal memiliki arti dan makna yang sangat luas dalam perkembangan arsitektur. Perkembangan ini sudah dimulai sejak peradaban dimulai. Perkembangan dimulai sejak manusia memilih tempat seperti gua sebagai tempat tinggalnya, kemudian berkembangan dengan membangun arsitektur vernakular hingga perkembangan arsitektur modern saat ini.

Rumah tinggal sebagai tempat beraktifitas dirancang aagar seuai dengan kegiatan dan aktivitas penghuni di dalamnya. Dalam perkembangannya, manusia selalu berusaha menciptakan rumah tinggal yang sesuai dengan lingkungannya. Di sinilah dibutuhkan keseimbangan antara rumah sebagai lingkungan binaan dengan alam dan lansekap tempat hasilkarya arsitektur tersebut didirikan.

Bagi masyarakat Bali, mendirikan rumah tinggal sangat mementingkan keseimbangan dan keselarasan dengan alam. Perkembangan arsitektur ini sudah dimulai dan berkembang pesat sejak zaman para Arya dari kerajaan Majapahit berkuasa di Bali. Hingga saat ini, tradisi dan nilai nilai budaya dari arsitektur vernakular Bali ini masih dipertahankan dan banyak diterapkan dalam perkembangan arsitektur di Bali.

Di Bali, bentuk permukiman sedikit banyak dipengaruhi oleh budaya dan sistem kemasyarakatan. Hal ini tercermin dalam bentuk-bentuk permukiman yang disesuaikan dengan tingkatan-tingkatan kasta dalam pola kemasyarakatan di Bali. Pengelompokan tersebut sangat jelas terlihat dari segi tingkatan kasta penghuninya, kegiatan di dalamnya, luas pekaranga, susuran ruang, tipe bangunan, fungsi, bentukm dan bahan penyelesaiannya. Ditinjau dari nama, rumah tempat tinggal juga dibedakan sesuai dengan kasta pemiliknya.

a. Geria
Rumah tempat tingal ini diperuntukkan untuk mereka yang bersal dari golongan Brahmana. Sesuai dengan kastanya giolongan Brahmana berperan sebagai pemimpin spiritual, maka bangaunan ini disesuakan dengan kegiatan yang mungkin dapat dilaksanakan golongan Brahmana sebagai pemimpin spiritual.
b. Puri
Tipe rumah untuk kesatria, yang dirancang agar dapat menunjang kewibawaan penggunanya sebagai pimpinan. Tipe bangunan ini memiliki beberapa bagaian dengan fungsi tertentu juga antara lain:
• Ancak saji, sebagia halam pertamana yang berfungsi untuk mempersiapan masuk ke dalam Puri
• Semanggem, bagian kelod yang berfungsi untuk upacara kematian
• Rangki, diperuntukkan untuk area tamu, pasebahan, persiapan sidang, pemeriksaan dan pengamanan
• Pawaregan, Area dapur dan perbekalan
• Lumbung, area penyimpanan dan pengolahan bahan perbekalan (padi dan prosesnya)
• Saren kaja, Area yng difungsikan sebagai tempat tinggal istri-istri raja
• Saren kangin, tempat ini disebut juga Saren angung sebgai tempat tinggal raja
• Paseban, bagian tengah sebgai daerah pretemuan / sidang kerajaan
• Pemerajaan Agung, Bagian kaja angin untuk area tempat suci perhyangan
c. Jero
Tempat tinggal untuk kasta kesatria yang tidak memegang jabatan pemerintahan secara langsung. Area dan Zoning lebih sederhana dari Puri. Zoning dirancang dengan prinsip Triangga. Pamerajaan sebagai parhyangan, jeroan sebagai area tempat tinggal, dan jambaan sebgai area pelayanan umum dan halaman depan.
d. Umah
Rumah tinggal untuk kasta wesia yaitu mereka yang bukan berasal dari kasta Brahmana dan Kesatria. Sebagian besar dareah di sekitar pantai dan pegunungan tidak terdapat kasta brahmana dan kesatri sehingga penduduk di daerah tersebut menghuni rumah dengan tipologi umah. Keadaan umah sangat bergantung dan disesuakan dengan kondisi penghuninya. Sebagaian besar mata pencahariannya adalah petani. Di daerah yang keadaaan pertaniannya kurang baik maka umah di daerah tersebut juga dirancang sederhana.
e. Kubu
Merupakan rumah tinggal di luar daerah permukiman, di ladang, di perkebunan,dan tempat-tempat lainnya. Biasanya rumah tinggal kubu sangat sulit untuk dijangkau, hanya dapat dijangkau melalui jalan setapak dan jalan-jalan sementara.


Rumah bernuansa etnik Batak

Seberapa besar keinginan kita untuk memiliki rumah hunian yang bernuansa Batak? Atau justru sebaliknya, kadang kita malu ketika desain  rumah kita mirip desain rumah Batak dengan atap yang berbentuk perahu besar…

Bagi saya sah-sah saja, semua tergantung cara pandang kita dan  nilai yang kita pegang dalam norma d


Rumah bernuansa etnik Batak

Seberapa besar keinginan kita untuk memiliki rumah hunian yang bernuansa Batak? Atau justru sebaliknya, kadang kita malu ketika desain  rumah kita mirip desain rumah Batak dengan atap yang berbentuk perahu besar…

Bagi saya sah-sah saja, semua tergantung cara pandang kita dan  nilai yang kita pegang dalam norma d


wajah

30Nov99

Horas

ketika